FKPMKP DIY
  • Home
  • OPINI DAN ARTIKEL
  • Brosur
  • Galeri
  • Hasil Diskusi
  • Sastra dan Budaya
  • Siaran FKPMKP
Foto diambil dari google
FKPMKPDIY--Setelah saya membaca sebuah buku dengan judul: “PIKIRAN adalah MEDAN PERANG”, dengan anak judulnya: “Memenangkan Perang dalam Pikiran Anda.” Saya ingin berbagai sedikit, yang menurut saya perlu untuk diteruskan walau tidak semua dapat paparkan di sini. 

Pikiran adalah medan perang sebab perang sedang berkecamuk dan pikiran kita adalah medang perangnya. Perang melawan setiap aktivitas kita, perang melawan pemerintah-pemerintah dari siasat tipu daya. Namun berita baiknya adalah Allah berjuang di pihak kita. Hal mengenai melawan tipu daya, melalui pikiran kita, telah dirumuskan atau telah dikatan begitu jelas dalam ayat Alkitab.
 
“Karena kita tidak bergulat melawan daging dan darah (bertanding hanya menghadapi lawan fisik), tetapi melawan despostisme, melawan penguasa-penguasa, melawan (roh-roh yang adalah) pemerintah-pemerintah dunia dari kegelapan sekarang ini, melawan kuasa-kuasa roh kefasikan di lingkungan (abadi) kodrati surgawi.” Efesus 6:12
 
Dari ayat diatas melihat bahwa kita berada dalam medan perang. Penelitian yang cermat dari ayat ini memberitahukan kita bahwa peperangan kita bukan hanya melawan manusia lain, melainkan melawan iblis dan roh-roh jahatnya. Musuh kita, iblis, berusaha untuk mengalahkan kita dengan siasat dan tipu daya, melalui rencana yang diatur rapih dan tipuan yang dipikirkan secara matang.
 
Iblis adalah pendusta, Yesus menyebut dia..bapa dari segala dusta dan dari semua yang palsu (Yohanes 8:44). Iblis mendustai anda dan saya. Dia memberi tahu tentang diri kita, tentang orang lain, dan tentang keadaan yang tidak benar. Namun ia tidak memerberi tahu kita seluruh dusta sekaligus. 
 
Iblis mulai menyerang pikiran kita dengan pola pikir yang licik dari gagasan, kecurigaan, kebimbangan, ketakutan, rasa ingin tahu, penalaran dan teori kecil yang terus menerus mendesak. Dia bergerak lambat dan hati-hati (bagimanapun rencana yang disusun rapi, membutuhkan waktu). Ingat dia mempunyai siasat untuk peperangannya. Ia telah lama sekali mempelajari diri kita. 
 
Iblis tahu apa yang kita sukai dan yang tidak kita sukai. Dia tahu kegelisahan kita, kelemahan kita dan ketakutan kita. Dia tahu, hal yang paling mengganggu kita. Ia bersedia meluangkan beberapa pun lamanya waktu yang dibutuhkan untuk mengalahkan kita. Salah satu bakat iblis adalah kesabaran.
 
Kesimpulannya kembali kepada kita, kepada pikiran kita. Mau diarahkan kemana? Ke arah yang baik atau ke arah yang tidak baik. Mau mengandalkan Tuhan dalam hidup anda atau mau berjalan dengan kemauan anda yang telah diketahui oleh si Iblis. Sebab hanya pikiranlah medan perangnya. Melawan semua rencana yang telah tertata rapi oleh Iblis yang juga bersedia meluangkan waktu berapa pun lamanya. 
 
Maka dari itu, kita harus mau, seluruh hidupnya diserakan kepada Tuhan Allah. Karena senjata peperangan kami bukanlah fisik, tetapi perkasa di depan Allah untuk keruntuhan dan kehancuran benteng benteng, meyangkal alasan dan teori dan penalaran dan setiap kesombongan dan keangkuhan yang melawan pengenalan akan Allah; dan kami mengiring setiap pikiran dan maksud menuju keputusan Kristus ( Mesias, Dia yang Diurapi. (2 Kor 10: 4, 5). 
 
Tuhan bersabda, Karena pikiran-Ku bukanlah pikiranmu, jalanmu bukanlah Jalan-Ku…(Yesaya 55:8), apapun yang mungkin Anda dan saya pikirkan. Tuhan sudah menuliskan pikiran-Nya untuk kita dalam Alkitab. Kita harus memilih untuk memeriksa pikiran kita dalam terang dari firman Tuhan, dan selalu bersedia menundukkan pikiran kita pada pikiran-Nya karena mengetahui bahwa pikiran-Nya itu yang terbaik. Semoga bermanfaat. Tuhan memberkati.
 
Refrensi: Meyer Joyce. Pikiran adalah Medan Perang.Penerbit, Bookstore & publishing house
0
Share
Paskah.Ist
Oleh, Anton Gobai
 
FKPMKPDIY--Masa perayaan paskah  diawali dengan masa prapaskah, masa penantian hari wafatnya Yesus di Kayu Sali setelah ia dikiyanati oleh muridnya, sebagaimana yang telah di kisahkan atau dicacat dalam Alkitab. Saatnya kita sudah masuk dalam masa paskah, dan makna paskah selalu ada bersama kita karena Yesus bangkit  adalah abadi hidup. Sehingga paskah bukan seremonial perayaan ekaristi sebagai orang yang percaya padanya tetapi  masa paskah adalah kekuatan utama sepanjangan masa. Paskah adalah perubahan hidup bersama kebangkitan kristus. Paskah adalah sumber kebangkitan hidup.

Kebangkitan Kristus adalah kebangkitan hidup, kebangkitan masa depan, kebangkitan bangsa Papua. Singkatnya paskah adalah kemerdekaaan dan pembebasan. Yang lama ditinggalkan dan kita harus bangkit bersama kristus untuk pembebasan bangsa Papua mulai dari diri kita masing-masing.

Kemudian pertanyaan adalah bagaimana kita mengintrepretasikan makna paskah dalam kehidupan sehari-hari? 

Jawabnya tergantung dari cara masing-masing orang menghayati kebangkitan Kristus. Namun saya ini membagi cacatan refleksi tentang makna paskah, sebagai orang yang percaya kepadsa kristus dari konteks Papua. 

Yudas Iskariot terlibat dalam Pelanggaran HAM, terlepas dari kehendak Allah. Sebagai manusia Yudas Iskariot terlibat dalam kasus  pembunuhan Yesus. Menjual Yesus kepada para musuh sebagai pelanggaran HAM yang sangat sadis yang ada dalam sejarah gereja dunia.

Cara Yudas Iskariot menjual Yesus kepada kaum ahli Kitab Suci tokoh-tokoh agama dan tokoh pemerintah waktu itu adalah cara pelanggaran hukum Allah orang Papua yang menjual sauadaranya mengkhianati keluarganya atau istrinya atau anaknya atau sesama orang Papua untuk memuaskan diri dengan kekuasaan jabatan dan uang Indonesia adalah  melanggaran hukum Tuhan. Sama saja dengan membunuh Yesus.

Kekakuan Yudas Iskariot yakni itu juga  sering terjadi didalam kehidupan sehari-hari. Ketika orang lebih memikirkan tentang kekuasaan dan uang maka orang mudah menjual, mengkhianati dan menghabiskan nyawa orang lain .

Kekitka orang dikuasai oleh jabatan dan uang, oranag dengan senang hati melakukan hal yang serupa  dengan Yudas Iskariot. Maka orang-orang model itu tidak beda dengan Yudas yang menjual Yesus kepada negara dan militer.

Penulis adalah mahasiswa Papua, Kuliah di Gorontalo, Sulawesi Selatan.
0
Share


Setiap tanggal 25 Desember, umat Katolik di seluruh dunia merayakan peringatan kelahiran Tuhan Yesus di Betlehem, 2000 tahun yang lalu. Dalam tata kebudayaan Melanesia di Papua, kelahiran adalah peristiwa gembira. Kelahiran adalah tanda kesuburan. Kesuburan adalah tanda diberkati. Maka itu, pesta adat adalah wajib hukumnya menyambut kelahiran. Karena nuansa kebatinan orang Papua yang kental juga, maka tentu saja, banyak makna tersemat dalam prosesi penyambutan kelahiran itu. Dewasa ini di Papua, dapat kita buktikan, kegiatan syukur bersama atas kelahiran Tuhan Yesus dapat dijumpai dengan gampang di gereja-gereja. Gereja dirias dan altar didandani. Setiap rumah dirias. Kebahagiaan terpancar dimana-mana. 

Saat Natal 25 Desember, orang dari luar Papua akan berdecak kagum pada kita: begitu cepat kita lupa pada kematian 'bayi' sebuah bangsa pada 19 Desember, enam hari sebelum hari lahir Tuhan Yesus. Akh, itu soal lain. Yang ingin saya bilang, orang Papua gembira dalam setiap penyambutan kelahiran. Dalam tatanan pemaknaan, sesuai dengan ajaran Gereja, perayaan Natal dimaknai sebagai momentum kebangkitan, momentum kelahiran kembali dan momentum perubahan.

Sebagai momentum kebangkitan, kelahiran kembali dan perubahan, setiap orang tentu saja melakukan beberapa hal (dan ini juga dianjurkan lewat Adven/masa penantian), yakni kontemplasi, menimbang baik-buruk masa lalu, pertobatan, janji pembaharuan iman dan perbuatan. 

Apa artinya kontemplasi? Ambil waktu lebih banyak untuk duduk, membebaskan pikiran dari belenggu-belenggu: tugas dan pekerjaan, anak istri, teman dan kerabat, dan mulai menelusuri kembali kehidupan. Dalam kontemplasi, hadirkan masa lalu, dan perhatikanlah. Nilailah dengan mata hari, baik buruk dan benar salahnya dirimu dalam pikiran, perkataan dan perbuatan dalam setiap tarikan nafas yang telah berlalu.

Lalu masuklah dalam proses menemukan baik dan buruk masa lalu. Mencoba mengumpulkan yang baik dan menyelaminya kembali. Temukan cara-cara untuk mengoptimalkan dan tentu saja, mempertahankan cara hidup baik di masa silam itu untuk hari esok dan selanjutnya. Perhatikan kekurangan dan dosa di masa silam. Telusuri. Perjalanan menelusuri lorong dosa lebih berat daripada sebaliknya untuk kebaikan. Berhati-hatilah. Maka sebelum masuk kepada proses ini, bacalah ayat-ayat Alkitab yang akan memberimu kekuatan: kekuatan untuk menelusuri kembali, dan kekuatan untuk mengatakan tidak (mengaku bersalah) pada pembenaran diri dari dosa yang akan dilakukan oleh dagingmu dari dalam tubuhmu. Jiwa dan hati nuranimu harus memenangkan proses ini.

Bertobatlah. Apa artinya? ada dua poin penting. Pertama: mengaku kalau kita salah. Setiap dosa yang telah kita buat, akuliah. Baik itu di depan dirimu sendiri, di depan pastor dalam pengakuan dosa, maupun kepada sesama. Bila perlu, pergilah kepada orang-orang yang kau rugikan. Akui dulu bahwa kita bersalah. Lalu kita memohon ampun pada Tuhan dan pada diri sendiri, lalu kepada sesama.

Wujud pertobatan adalah tindakan tidak mengulangi dosa-salah yang sama dan proses kita untuk setia pada janji pertobatan.  Itulah makna Natal bagi orang Katolik, menurut saya. 

Lalu bagaimana dengan konteks kita di Papua?

Dalam hidup yang penuh dengan air mata akibat anak-anak bangsa yang mereka lahirkan, sambut dengan pesta kelahiran yang meriah, dan berkorban untuk mendidikan dan membesarkannya itu akan dibantai juga oleh peluru militer, oleh narkoba dan Miras, oleh sakit, oleh ... . Pembunuhan, pemenjarahan, perampasan tanah-tanah adat, penyingkiran orang asli Papua dari tanah airnya melalui transmigrasi, paham pembangunanisme, pengerukan sumber-sumber daya alami melalui eksplorasi dan eksploitasi, lalu dominasi ekonomi dan pemarginalan orang asli Papua, semua yang dialami orang Papua itu menjadikan momen Natal menjadi sesuatu kebahagiaan semu. Bagi orang Papua, bahagia hanya di saat perayaan Natal. Lagu-lagu indah hanya saat Natal. Tertawa ria dan kumpul bersama keluarga, dan kemunafikan setiap orang untuk pura-pura baik hanya ada pada moment Natal. 

Setelah Natal? Orang Papua akan kembali menangis lagi. Semua yang tidak adil akan datang lagi mendekat. 

Mengingat banyak orang kini menaruh harapan perubahan pada proses perjuangan kemerdekaan Papua sebagai alat yang akan membebaskan bangsa Papua dari belenggu derita dan yang akan mendekatkan bangsa Papua pada bahagia sesungguhnya, maka proses pemaknaan Natal juga sudah mesti kita kontekskan. Maksud saya, biar Natal di Papua tidak menjadi perayaan bahagia sesaat.

Maksud saya, setiap orang Papua sudah mesti pikir, apa yang sudah dia buat untuk Papua merdeka.. Dikontemplasikan, dipertimbangkan kontribusinya, dipikir-pikir, seberapa besar dirinya mendukung upaya perjuangan kemerdekaan Papua, dan akhirnya melahirkan semangat baru untuk lebih terlibat aktif dalam proses perjuangan.

Tetapi sebelum itu, setiap orang mestinya lebih dahulu menyadari, kebahagiaan Natal adalah kebahagiaan sesaat bagi orang Papua. Karena usai Natal, pembunuhan akan terjadi lagi. Pemerkosaan dan perampasan tanah adat akan terjadi lagi. Pengerukan sumber daya alam akan terus berlanjut, dan lain-lain, dan lain-lain, semua akan terus berlanjut lagi. Satu-satunya sarana menuju kebahagiaan sejati adalah Papua merdeka. Inilah makna Natal sesungguhnya: kesadaran akan hakikat bahagia yang sesungguhnya bagi orang Papua hanya ada di alam kemerdekaan. 

Bila kita tidak peduli dengan keselamatan hidup bangsa Papua di hari esok dan selanjutnya, masa bodoh, pikir diri sendiri, lalu bagaimana kita ingin hidup seturut dengan ajaran Tuhan? Tuhan bilang, "Apa yang kita bikin untuk saudaramu yang paling hina ini, itu kau buat untuk Aku."

Selamat merayakan hari kelahiran Tuhan Yesus untuk semua orang Papua di mana pun berada. Semoga kita sadari kalau bahagia Natal adalah bahagia semu, dan kita yang terbelenggu ini sudah punya tugas yang sama seperti yang diemban bayi Yesus yang kelahirannya kita peringati: berjuang membebaskan manusia; berjuang membebaskan bangsa Papua untuk merdeka ekonomi-politik 100%.

@Sani
#FKPMKP DIY

0
Share
  
Foto : saat -saat bersama Misdinar katefral Tiga Raja Timika, Seusai malam Kamis putih./doc.prib Man
Banyak dari kita yang menganggap rendah seseorang yang telah memutuskan untuk menjadi seorang Misdinar atau putra-putri Altar. Namun banyak juga dari kalangan Misdinar itu sendiri yang beranggapan bahwa tugas yang mereka laksanakan semata-mata hanya sebagai seseorang yang melayani tugas imam saat mempersembahkan Ekaristi.

Nah, berangkat dari uraian diatas maka saya akan bercerita tentang pengalan saya saat bergaung menjadi misdinar.

Dulu saat saya di kampung halaman Paniai Papua, saat saya duduk di SD kelas III saya sangat tertarik melihat misdinar melayani Imam saat misa kudus dan niat untuk bergabung nampak dalam diri pribadi saya. Setelah saya duduk di kelas IV saya mendaftarkan diri untuk menjadi anggota misdinar Paroki Kristus Jaya Komopa Pamopa. Saya pun bergabung dan menjadi anggota misdinar walaupun saya belum menerima sakramen ekaristi.

Sebelum saya menerima sakramen ekaristi saya sesuaikan saja, dan saya boleh menyambut semenjak SD kelas V setelah satu satuhun lamanya menjadi misdinar. Walau sudah satu tahun menjadi anggota, saya belum mendapatkan makna apapun, yang ada hanya ikut rame, karena teman - teman saya juga banyak dari anak-anak misdinar.Hal itu berlanjut terus semenjak saya SD.

Setelah saya tamat SD, selanjutnya saya melanjutkan SMP YPPK Lecocq D’arman Ville Kokonao, TImika Papua,dan saat itu saya berpisah dari pergi jauh dari kampung saya,berpisah dengan orangtua, kakak-kakak derta teman-teman misdinar di paroki kami.

Namun semangat untuk melayani selalu bersinar dalam hati saya sehingga saya bergabung pulah dengan anak - anak Misdnar disana, yakni di Paroki Maria Bintang Laut Kokonao. Setelah saya aktif disana barulah saya mengerti arti dari tugas istimewa dari Misdinar.

kemudian saya dipilih menjadi pendamping sekaligus melatih adik-adik misdinar: bagaimana cara melayani Imam di altar saat misa kudus.di Poroki katedral Tiga Raja Timika, pusat Keuskupan Timika saat saya berada di bangku SMK setelah menyelesaikan Study SMP.  Tugas ini berakhir setelah lulus SMK untuk menuju pendidikn yang lebih tinggi.

Dari pengalaman saya ini bukan hanya sekedar cerita pengalaman saya, tetapi dari pengalaman ini, saya ingin berbagi manfaat dan dinilai - nilai yang akan saya peroleh ketika saya menjadi anggota misdinar. Nah baik secara sadar atau tidak, dengan berbagai alasan yang dipilih, ketika seseorang memutuskan untuk menjadi seorang misdinar, di dalam dirinya terdapat suatu keinginan untuk melayani, entah keinginan ini tulus atau tidak. Sekecil apapun keinginan ini, ia harus tetap dihargai. Meskipun memiliki suatu keinginan untuk melayani, keinginan ini akan menjadi sia-sia jika tidak seimbang dengan perbuatan dan terutama didukung oleh kepribadian yang sempurna sebagai seorang pelayan itu sendiri.

Saat saya Menjadi seorang misdinar saya selalu siap melayani imam di altar, juga teasa kalau saya menjadi seorang pelayan di kebun anggur Allah. Saya merasa bangga menjadi seorang Misdinar juga karena mengetahui pengetahuan baru selain membantu dalam perayaan ekaristi yakni untuk memperkuat iman pribadi dalam kegiatan-kegiatan pengembangan pribadi seperti LDK (Latihan Dasar Kepemimpinan), Retret, Out Bond meditasi tentunya, juga pandangan saya bahwa organisasi Misdinar tidak kalah maju dan penting anak muda dalam pengembangan iman katolik. Saat - saat itlah saya mengerti dan belajar untuk melayani Allah secara sempurna.

Manfaat yang saya peroleh dengan menjadi Misdinar yakni  semakin percaya diri, berani tampil di hadapan banyak orang, semakin dekat dengan Ekaristi Kudus, dan akan mendapat banyak sekali pengetahuan iman yang tidak akan diperoleh di tempat lain.

Tapi ingat ,Untuk mendapatkan itu semua , Tuhan punya ujian untu anak-anak Misidinar sejauh mana anda melayani dengan tulus dan penuh cinta, kesetiaan, relah berkorban dan apakah anda telah menunjukan teladan yang baik kepada umat ?

Untuk Putra- Putri Altar , bertanyalah dalam hati kalian masing -masing , apakah anda telah menjawab semua pertanyaan dari Tuhan? Kalau jawabnya belum, maka lebih serius lagi untuk melayani .Bilah sudah akan mendapatkan berka dari Tuhan.

Baiklah setiap Misdinar mengingat bahwa tidak ada di dunia ini yang berjalan tanpa sekehendak Allah. Allah yang memutuskan segala sesuatu dan bila Ia memutuskan bahwa seseorang telah melayani-Nya dengan tulus, betapa besar rahmat karunia yang akan diterima oleh orang tersebut,  walau banyak ujian dan tantangan. Terima dengan lapang dada betapa berat halangan yang harus ia tempuh. (Manfred.K)
0
Share

Ilustrasi. Sumber: Ist.
Sabtu (17/09/2016), sore, anggota Forum Komunikasi Pelajar dan Mahasiswa Katolik tanah Papua di Daerah Istimewa Yogyakarta (FKPMKP DIY)  mengemukakan pendapatnya masing-masing tentang 'Keberanian'.

Maria Yawarin, mahasiswa Papua asal Keuskupan Agung Merauke ini menjelaskan, ketakutan itu pasti ada dan hadir dalam irama hidup manusia. Keberanian, menurutnya, dibutuhkan justru saat seseorang merasa takut. 

"Setiap orang pasti merasa takut. Disana, keberanian itu perlu," jelas  Yawarin. 

Ada bebrapa kategori keberanian. Berani untuk melawan sesuatu, berani untuk menghadapi sesuatu dan keberanian untuk hal-hal lainnya.

Manfred Kudiai, mahasiswa Teknik Mesin asal Keuskupan Timika ini menjelaskan, dalam konteks tertentu, keberanian adalam modal awal.

"Saat kita berani, kita sudah memiliki sebagaian kemenangan," urai Kudiai.

Mahasiswa Papua lain asal Kerom, Keuskupan Jayapura, Sinta, menjelaskan hal yang sama. 

"Keberanian itu perlu, untuk hal apa saja. Keberanian itu untuk melatihnya harus dimulai dari hal-hal kecil, karena dari situlah, kita akan belajar percaya diri dan mampu untuk menyampaikan hal-hal tanpa perlu takut, grogi, canggung, dan lain-lain," jelas Sinta.

Andreas Takimai menambahkan, keberanian itu dapat dialami seseorang dengan jalan dilatih, tentu saja dengan banyak cara. 

"Rekoleksi, sharing dan diskusi, seperti di FKPMKP, itu bisa menjadikan seseorang jadi lebih berani," jelas Takimai.

"Percaya diri, kemauan,  tidak boleh pikir yang jadi kelemahan dalam diri kita," tambah Fani Inge Aria dan Marselina Mote.

Takimai menjelaskan, kadang-kadang, untutk orang Papua di tanah rantau (di luar tanah Papua), rasa takut itu muncul karena dalam pikirannya, seseorang sudah merasa bahwa orang luar Papua lebih mampu, lebih bisa, lebih pintar, lebih maju. Itu yang harus dihapus dari dalam batok kepala setiap orang Papua.

"Orang Papua harus percaya diri dan yakin bahwa mereka bisa, karena memang orang Papua juga sama dengan orang-orang lain," tegas Takimai.

Anggota FKPMKP sama-sama percaya bahwa setiap orang diciptakan secitra, segambar dan serupa dengan Allah sendiri, dan oleh karenanya, ketakutan sudah harus dikontrol dan dimunculkan seperlunya pada saat-saat yang memang penting dan dan digunakan sewajarnya. (ST)

0
Share
Foto ilustrasi. Sumber: Ist.

Hari ini, Rabu (14/09/2016), anggota Forum Komunikasi Pelajar dan Mahasiswa Katolik tanah Papua di Daerah Istimewa Yogyakarta (FKPMKP DIY) mengemukakan pendapatnya masing-masing mengenai ketakutan dalam diri manusia dan untung-ruginya.

Anselina Uropmabin, mahasiswi Universitas Katolik Sanata Dharma  (USD) Yogyakarta mengatakan, rasa takut, dalam situasi tertentu, dalam konteks tertentu, sangat dibutuhkan. Rasa takut itu diperlukan sebagai alasan untuk berjaga-jaga akan hal-hal yang tidak baik.

"Bagimana kalau asa takut itu tidak ada? Itu kan akan jadi bikin hidup ini kacau," jeas Uropmabin. 

Fani Inge Aria menambahkan, rasa takut itu juga bisa menjadi motivasi untuk melawan dan mengalahkannya. "Ia menjadi batu loncatan untuk menjadi lebih berani." 

"Tapi tidak di semua situasi kita harus takut," tambah Aria, mahasiswi Akuntansi di SUD ini .

Sementara Marselina Mote megatakan, kadang-kadang, malu, gugup, canggung, kaku, itu akan muncul oleh karena ketakutan itu bersarang dalam diri kita.

"Jadi untuk hal-hal tertentu, ketakutan itu tidak kita butuh. Tapi pada umumnya, rasa takut dalam diri manusia itu baik dan menguntungkan," tegas Mote, mahasiswi Sekolah Tinggi Teknik Nasional (STTNas) Yogyakarta.

Maria Yawarin, mahasiswi Papua asal Merauke yang kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi IEU Yogyakarta menjelaskan, ketakutan itu kita butuhkan, tapi tidak untuk hal-hal tertentu. 

Hal senada juga disampaikan Manfred Kudiai, mahasiswa Teknik Mesin Akprind, Yogyakarta. 

"Ketakutan itu penting. Manusia jadi tidak hidup bila tanpa rasa takut," tegas Kudiai.

Sementara tambah Mote, ketakutan itu baik untuk menjadi alat kontrol bagi moral setiap orang. Tapi kata Willem Sipka,  rasa takut itu tidak kita butuhkan. 

"Ketakutan itu bikin kita tidak percaya diri dan tidak maju. Jadi ketakutan itu perlu dihilangkan," tegas Sipka, mahasiswa arsitek di Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta ini.

Jadi, bagimana pendapatmu: ketakutan itu, penting atau tidak? (ST)
0
Share
PesertaMakrab FKPMKP DIY 2016: Frans Tigi, Ansel Tebay,Yosinta Watae, Kaldo Dogomo, Yunita Wawon, Herman Degey, Petrus Tebay dan Daud Agapa. Foto dari depan papan nama tempat Makrab dibuat.
Ternyata benar apa yang pernah disampaikan oleh Pembina Orang Muda Katolik (OMK) kami, Petrus Tekege, saat saya masih sebagai anggota OMK di gereja katolik St. Antonius Bumiwonoro, Nabire-Papua. Ialah bahwa, terkadang karena tergolong masih pemula dan canggung, seseorang ketika diberi waktu untuk menyampaikan pesan dan kesan dari sebuah kegiatan, biasanya seseorang tersebut lupa dan tergagap-gagap bicaranya ketika sudah berdiri di depan peserta.  Bahkan walau seseorang tersebut saat akan diberi waktu untuk menyampaikan pesan dan kesan, sebenarnya sudah mengonsep apa yang akan disampaikan secara mantap sekalipun.

Demikian rupanya yang dirasakan sahabatku ini. Nama lengkapnya Kawelardus Dogomo. Kerap disapa Kaldo. Saya mengenalnya sejak kami baru masuk di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 2 Nabire (2012). Jika orang biasa katakan, tidak ada sesuatu pun yang langgeng di dunia ini, maka tidak dengan persahabatan kami. Ya, saya yakin itu. Selepas dari Nabire rampungkan jenjang Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA), lanjut kuliah pun kami dua sama-sama di kota Yogyakarta. Kota jantung budaya dan pendidikan.

Kemarin ini kami sama-sama ikut kegiatan Malam Keakraban (Makrab) yang diselenggarakan oleh Forum Komunikasi Pelajar dan Mahasiswa Katolik tanah Papua, Daerah Istimewa Yogyakarta (FKPMKP DIY), di Desa Kebangsaan, Imogiri, Bantul (02-04/09/16).

Dia mengaku telah mendapatkan banyak hal disana. “Dari sana saya dapat banyak hal. Mulai dari dapat pengalaman baru, bisa berbaur dengan teman-teman dan kaka-kaka yang tentunya kami semua berasal dari latar belakang yang berbeda, dapat pengetahuan dari beberapa materi yang dikasih dari sana, dan satu lagi, itu dari sana baru saya agak jadi berani. Berani maksudnya tidak lagi kikuk kalau duduk atau main dengan teman-teman perempuan,” bebernya.

Karena, lanjut dia, sebelumnya saya kalau duduk dekat perempuan, apalagi perempuan tersebut asalnya dari daerah lain, saya cepat sekali rasa canggung. Kadang juga saking canggungnya, saya sering keringat dingin. Tapi sekarang sudah agak tidak. 

Dia juga kagum akan relasi yang akrab dan transparan antara satu individu dengan individu yang lainnya disana.

“Disana itu saya tidak lihat yang namanya sukuisme dan  pengkotak-kotakkan. Semuanya terbuka. Ada makan, makan sama-sama, minum, minum sama-sama, duduk sama-sama, berkelakar, bersenda gurau, tapi juga ada waktu seriusnya. Dan itu yang bikin sa rasa macam bagaimana begitu. Betah. Ingin selalu tinggal di momen itu,” katanya, terharu.

Mahasiswa STTNas yang tinggal di Asrama Dogiyai, di kamar 1.05 ini juga merasa tertagih atas ucapan yang diteriakkannya, saat sesi dimana mereka disuruh berteriak keras-keras demi mendapatkan identitas diri dari para panitia disana.

“Waktu itu saat saya mau minta identitas lengkap dari salah satu kakak panitia, dia bilang sebelumnya kamu harus berteriak; ‘Saya akan aktif di FKPMKP selama saya masih di Jogja sini’ sebanyak 10 kali. Saya turuti semua. Saat itu saya rasa deru suara saya didengar oleh alam dan tentunya Tuhan. Saya rasa semacam tertagih begitu. Dan tidak enak kalau yang saya ucapkan ketika itu tidak saya realisasikan disaat mendatang,” katanya.

Karena itu untuk kedepannya, dia bilang, saya akan aktif terlibat dalam forum ini.

“Kemudian saya juga merasa terharu ketika saat terakhir di momen pengukuhan. Coba bayangkan. Setelah kami sebelumnya  melewati jalan dengan posisi mata kami yang dikatup rapat-rapat dengan kain hitam, dan seterusnya, terakhir kaki kami dibasuh oleh kakak-kakak panitia serta senioritas dan minta maaf, sekaligus ucap ‘Selamat bergabung!’ untuk kami. Air mata saya tidak lagi terbendung ketika itu. Saya menangis dalam keharuan,” imbuhnya.

Untuk teman-teman agama Katolik di Jogja yang kemarin tidak ikut, baik itu tidak ikut karena ada halangan, atau memang karena malas, dia bilang, mereka rugi. Tapi kedepannya seperti pertemuan, diskusi, dan lain-lain mereka bisa ikut dengan kami. Cuma untuk Makrab, mereka akan ikut tahun depan. Karena itu merupakan sebuah keharusan bagi segenap anggota FKPMKP.

“Saya mau teman-teman di Ipmanapandode, terlebih yang agama Katolik juga terlibat dalam forum ini. Lagipula sekarang kan, organisasi kita sedang sedikit vakum, sehingga tidak pernah ada kegiatan. Tapi itu kembali pada pribadi masing-masing. Karena setiap pilihan yang kita ambil, itu pasti ada konsekwensinya masing-masing,” tambahnya. (Herman E. Degei)




  
0
Share
Ilustrasi:Yesus,Dismas dan Gestas di palang kayu salib/ist

 Oleh, Herman E. Degei
"Kisah tentang orang hebat sudah sering kita dengar. Demikian pula kisah tentang orang sukses, orang kaya, ataupun seorang pemimpin. Namun pernahkah kita sejenak mendengarkan kisah tentang mereka yang dianggap sebagai penjahat? Sudahkah kita mendengarkan kisah mereka yang dianggap jahat dan dinistakan oleh dunia sosial kita?"

Seperti yang ditulis dalam kitab suci, ketika Yesus disalibkan, ada 2 penjahat yang disalibkan bersama Dia di sebelah kanan dan di sebelah kiri-Nya; Dalam injil (Matius 27:38) ditulis, “Bersama dengan Dia disalibkan dua orang penyamun, seorang sebelah kanan dan seorang lagi di sebelah kiri-Nya.” Kemudian, dalam injil (Lukas  23:39-43) ditulis lagi, “Dari antara 2 penjahat itu, yang seorang bersimpati dan percaya pada Yesus, sedangkan yang seorang malah menentangnya.”

Baik dalam injil Markus maupun Lukas, nama kedua penjahat tersebut tidak dituliskan. Entah mungkin karena penulis kedua injil tersebut terlalu hemat untuk menuliskannya atau apa, tidak tahu. Kecuali dalam Injil Nikodemus (apokrif, Berasal dari Abad ke-4) ditulis, nama pencuri yang baik adalah "Dismas" dan nama pencuri buruk adalah "Gestas".

Disini, dari kedua penjahat tersebut, yang menjadi pokok pembahasan, sekaligus (semestinya) menjadi cermin buat setiap kita umat manusia adalah Dismas.

Menurut tradisi (dalam Gereja perdana) Dismas adalah seorang santo yang baru mengikut Yesus pada menit-menit akhir dari kehidupannya. Dismas adalah salah seorang dari dua penjahat yang disalibkan di sebelah kiri dan sebelah kanan Yesus.

Google menulis, bahwa Dismas Lahir pada 18 SM, di Galilea, dan Meninggal pada 33 M, di Bukit Golgota. Juga ditulis, Saudara kandung dari impenitent thief ini adalah anak dari ayah; Lucius dan ibu; Eve (legendary). Sebelum akhirnya ia disalibkan dan mati di kayu salib, ia sudah mempunyai Pasangan hidup bernama Tamar.

Mengintil judul tulisan, apa yang bisa kita telaah dari sosok Dismas?

Sementara Dismas adalah salah satu dari kedua penjahat yang mengecap kematian di palang salib bersama Yesus lantar kejahatannya. Apakah karena sikap penyesalannya terhadap dosa-dosanya, hingga ia menjadi layak untuk memasuki taman kebahagiaan yang abadi, dan tradisi gereja menyebutnya sang penjahat yang bertobat ini sebagai seorang kudus dengan nama St. Dismas?

Tidak. Masih ada lagi. Dan belum cukup sampai disitu untuk kita mempalajari dan mengutip “the turning point” atau titik balik yang kemudian mengubah haluan hidup seseorang.

Kendati dalam keempat injil tidak pernah menyebutkan nama Dismas, namun pada masa awal kehidupan gereja, telah beredar kisah tentang Dismas.

Disana dikisahkan, bahwa  ketika keluarga kudus melarikan diri dari Betlehem ke Mesir karena ancaman pembunuhan bayi Yesus oleh Herodes, mereka berpapasan dengan dua orang penjahat di tengah jalan, yakni Dismas dan Gestas.

Saat itu Gestas nampaknya ingin menganiaya keluarga miskin ini. Namun oleh pertolongan Dismas, Gestas akhirnya melepaskan keluarga kudus ini untuk meneruskan perjalanan mereka dengan selamat tanpa dirampok dan dianiaya oleh Gestas.

Kemudian untuk menunjukan rasa terima kasihnya terhadap Dismas, saat itu Maria berkata; “Tuhan akan mendukungmu dengan tangan kanan-Nya serta membebaskan segala dosamu.”

Disaat itulah Yesus yang berada dalam pangkuannya melonjak dan berseru; “Ibu, setelah tiga puluh tahun nanti, orang Yahudi akan menyalibkan saya. Dan pada saat itu kedua penjahat ini akan dihukum dan disalibkan bersama saya. Dismas di sisi kananku dan Gestas di sisi kiriku. Setelah saat itu, Dismas akan memasuki taman kebahagiaan abadi bersamaku.”

Perkataan bayi Yesus tersebut akhirnya tergenap. Disaat menjelang kematian di palang salib bersama Yesus, Dismas yang dalam injil (Lukas 23: 40-43) disebut salah satu dari kedua penjahat itu pernah berujar; "Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama? Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah."

Perkataannya inilah yang menyelamatkannya dimenit-menit terakhir, kala perlahan-lahan ketiganya meregang nyawa karena kehabisan darah, kehausan dan kelaparan. Sungguh sesuatu yang amat luar biasa.

Disaat saat orang lain temasuk temannya Gesmas berkoalisi untuk menjustifikasi Yesus sebagai Mesias gadungan yang gagal, Dismas justru membuat disetting opinion (pendapat hukum yg berbeda). Ia berani keluar dari suara mayoritas yang merendahkan kepribadian Yesus.

Dikayu salib ia mengakui kesalahan dan dosanya, dikayu salib ia memohon untuk tetap dicatat disorga, dikayu salib ia mempercayai karya penebusan Tuhan bagi manusia, dikayu salib ia mengkonstruksi ulang hidupnya yang rusak supaya diubahkan Yesus, di kayu salib juga ia membuat titik balik menuju perubahan yang sangat menentukan.

Jika mau blakblakan, rasanya IRI dikala Tuhan Yesus sendiri mengajak Dismas untuk masuk ke kerajaan Sorga.

Kata-katanya dalam injil (Lukas 23: 40-43) tadi membuat Tuhan Yesus tidak begitu sungkan untuk berkata; “HARI INI JUGA (bukan besok lusa) engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus." (Luk 23; 43).

Tekadnya untuk mau mengakui diri, menyesali dan memohon rasa simpati dari Yesus sendiri membuat dirinya menghembuskan nafas terakhir dengan tenang.

Ia tidak menggunakan konsep populis. Artinya; Pada saat itu para tentara Romawi, para pemimpin agama dan banyak orang yang dengan serunya berkoar, mengolok-olokan dan menghujat Tuhan Yesus. Namun ia tidak mempercayai orang banyak yang punya keberanian menyerang saat itu dengan menghujat Yesus.

Ia malah justru membuat disetting opinion, dan menikung balik menuju perubahan yang tidak menutup kemungkinan untuk nantinya dia memperoleh kehidupan kekal.

Dismas pandai menggunakan kesempatan. Ini artinya juga, bahwa dimenit-menit terakhir menjelang kematian yang diketahuinya, Dismas benar-benar memanfaatkan waktu yang tersisa untuk bergegas memutar arah hidupnya. Ia menyelesaikan sisa hidupnya dengan perkara kebenaran. Ia tak sewatak dengan Gestas yang kala itu justru menambah daftar panjang dosanya dengan malah mencurigai keaslian Kristus.

Sosok Dismas diatas hanyalah contoh kasuistik dari terbatasnya kesempatan manusia untuk berbalik kepada Allah. Dismas yang saat itu posisinya seorang penjahat dan jarang sekali mendengarkan petuah hidup yang hakiki dari Yesus saja bertobat.

Bagaimana dengan kita? Ini yang semestinya jadi bahan refleksi untuk kita.

Atau, barangkali saya keliru. Semoga tidak!

Jika dipahami intinya, Dismas adalah sosok yang bertobat saat di menit-menit terakhirnya. Dan saat itu memang dia sudah tahu persis, bahwa nantinya ia akan ditamat oleh para prajurit.

Bagaimana dengan kita?

Kita tidak tahu-menahu kapan kita akan meninggal, dan oleh apa kita meninggal. Bisa saja sekarang saat kita belum rampung membaca tulisan ini, hak hidup kita secara tiba-tiba dicabut sang Empunya.

Siapa bisa membantah?

Oleh karena itu, selagi masih ada waktu, mari kita jauhkan segala hal yang janggal di mata Tuhan, dan terus berbuat kebajikan terhadap sesama kita. Semoga!

Penulis adalah mahasiswa Papua, Kuliah di Yogyakarta, juga sebagai anggota FKPMKP DIY


2
Share





Dimana Allah Berada?
Penulis : J.Darminta, SJ
Penerbit : Kanisius
Tahun : 2006
Tebal Buku : 47 halaman



Dalam kehidupan kita banyak yang bertanya-tanya Diamana Allah Berada?


Keyakinan  akan Allah dewasa ini  belum mampu meyakini Allah benar-benar hadir dalam hidup kita. Kesadaran kita untuk meyakini  bahwa benar-benar Allah hadir didalam hati kita namun kita seakan  dijauhkan oleh tawaran-tawaran Duniawi semata. Mata hati kita seakan dibutakan oleh realita hidup saat ini yang membuat kita puas dengan  apa yang telah kita peroleh.

Meski manusia berdosa dan  karena itu hidup berpeluang  banyak menyebarkan kutukan,  ketika  manusia dilalui dengan hal dosa dalam perjalan hidup. Hidup dalam dosa digambarkan hidup dalam kegelapan yang membuat kita hidup dengan  ketidakpastian, ketidakjelasan, kekaburan dan kekacauan yang membuat  keliru sehingga mengalami kesengsaraan.

Namun Allah tidak berdiam diri dan membiarkan hidup kita berada dalam kegelapan dan menyengsarakan.  Untuk itu, Romo J.Darminta, SJ mencoba mengajak kita untuk menyadari dan memahami arti sebuah kehidupan lewat sebuah buku yang berjudul “Dimana Allah Berada?”.

Buku ini  memberikan motivasi serta dorongan bagi kita  untuk  bertolak ke tempat yang dalam untuk mengarungi perjalan hidup kita. Menemukan Allah yang sesungguhnya adalah keinginan setiap orang.  Allah tetap mencintai umat manusia  dan tidak pernah luntur.  Buku ini juga mengajak kita untuk merenungkan janji-janji berkat Allah  dari waktu ke waktu. Janji Allah kepada  nabi-babi yang membebaskan manusia dari generasi ke generasi, hingga adanya generasi baru, dimana Allah nyatakan janjinya, seperti yang dituturkan oleh Matius dalam silsilah Yesus Kristus Putra Daud. Keberadaan Allah semakin nyata melalui orang-orang tidak diperhitungkan oleh mata dunia.

Selain itu , hal yang berbeda  berdasarkan pikiran dan harapan manusia yang biasa membayangkan Allah akan menyertai dan memberi kita sesuai dengan yang kita inginkan atau butuhkan justru sebaliknya Allah membawa berkat melalui kerendahan, kemiskinan serta kehinaan di mata dunia.

Yesus sendiri adalah buah dari daya Roh Kudus dari Allah Bapa. Ini mengandung pesan kepada kita. Setiap Ibu yang mengandung anak adalah ibu semua kehidupan, membawa kehidupan kehidupan kudus dari Allah.

Dikandungnya Yesus Kristus  menegaskan kembali kepada kita bahwa hidup sungguh kudus, harus dihormati dan bahkan dibela.

Kemudian, kita diajak untuk berjalan dalam kekudusan hidup, seperti mebuahkan damai dalam hidup ini, membangun kembali hidup dengan perbuatan-perbuatan baik, karena perbuatan baiklah yang menerangi hidup untuk melangkah menuju kedamaian, persaudaraan dan keadilan. Kita diajak juga  untuk mengawali dari hal-hal yang kecil  dan sederhana  menuju ke  lebih besar dan rumit untuk menuju pada kehidupan yang kudus dalam kesederhanaan.

Untuk itu, mencari Dia yang punya kuasa atas hidup lewat pengalaman hidup kita dan pergaulan terhadap sesama manusia terutama lewat keluarga. Karena bagi banyak orang, keluarga adalah tempat untuk berkenalan dengan Allah. Allah kuasa melalui pinggiran. Daerah pinggiran yang tidak diperhitungkan oleh manusia namun diperhitungkan oleh Allah.

Selagi kita masih berpaling pada pusat-pusat kekuasan yang lebih menjadi sumber kekacauan, permusuhan, bahkan penindasan dan pengisapan, kita tidak akan menemui daya dan kuasa yang membawa damai.
Dengan ini, kita diajak terus untuk menyembah dan mengabdi Allah yang Kuasa, hanya dengan satu jalan yaitu keberanian mendatangi  mereka yang miskin dan mengabdi. Menyembah Allah  dilakukan terhadap mereka yang miskin, lemah, dan tak diperhitungkan.

Buku ini sangat menarik dan bermanfaat dan baik apabila kita membaca buku ini dan mencoba bermeditasi dengan apa saja termuat dalam buku ini.  Buku ini juga memuat unsur – unsur rohani yang membantu kita dalam memaknai arti kehidupan yang sesuanggunya.


Oleh, Manfred Kudiai
0
Share

Hukum utama dan yang terutama adalah hukum cinta kasih. Begitulah ajaran Yesus dari Nazareth yang kita pelajari dalam Alkitab. Asumsinya, kita akan menjadi benar-benar pengikut Yesus yang baik, hanya jika kita mengimplementasikan hukum cinta kasih itu.

Ada jutaan link yang membahas enty kata ‘kasih’ atau ‘cinta’ atau ‘cinta kasih’ melalui mesin pencari kata di internet, seperti google. Ada ribuan buku, puisi, syair, kidung, madah, dan karya-karya manusia lainnya dengan tema ‘cinta’, ‘kasih’ dan ‘cinta kasih’.  Sesaat saya pikir, betapa luar biasanya manusia dalam memahami cinta, memahami kasih atau cinta kasih itu. Terkesan, manusia sudah sangat akrab dengan cinta, kasih, dan cinta kasih. Tapi, bilamana kita baca koran, majalah, radio, televisi, mengapa begitu banyak kekerasan, pertengkaran, perkelahian, pembunuhan, pemerkosaan?

Sebagai anak Papua, begitulah saya renungkan, betapa di tanah airku, cinta kasih telah lebih bersifat verbalistik: mudah diucapkan, didiskusikan, dinyanyikan, dibukukan, dikotbahkan, tetapi kenyataannya justru berseberangan.

Setiap hari, ada saja kekejaman militer Indonesia pada rakyat sipil Papua. Ada saja diantara anak bangsa Papua yang ditembak mati militer. Ada pelarangan demo damai KNPB, ada penyiksaan, penghilangan nyawa manusia, ada penangkapan sewenang-wenang tanpa pengadila, macam-macam. Seakan-akan tanah airku adalah neraka kedua di bumi.

Ingatlah saya akan isi Alkitab. Seorang ahli Taurat bertanya kepada Yesus, hukum mana yang terbesar dari semua ajaran itu. Lalu Yesus membalasnya, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan sengan segenal akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang bertaa. Dan hukum kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Bacalah Matius 22:34-40.

Sekali lagi, cinta kasih adalah hukum utama yang diperkenalkan Yesus kepada kita. Disanalah sumber  kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri.

Persoalan kita saat ini adalah, mewujudnyatakan cinta kasih itu dalam kehidupan sehari-hari. Sebuah pertanyaan sederhana: Sudahkan kita mencintai sesama kita seperti kita mencintai diri kita sendiri? 

Itu tamparan Yesus pada setiap kita. Lebih-lebih bagi kita anak bangsa Papua dalam situasi dan kondisi bangsa kita saat ini. “Sudahkah kita mencintai  suku Amungme-Kamoro yang dirugikan Freeport Indonesia seperti kita mencintai diri kita sendiri?”; “Sudahkah kita  mencintai 4 remaja Paniai yang ditembak mati militer Indonesia itu seperti kita mencintai diri kita sendiri?”

Untuk menjawabnya, kita perlu menjawab pertanyaan, bagaimana mengkongkretkan hukum cinta kasih di atas.

Mari membaca Injil Matius 5: 13-20. Tuhan Yesus mengharapkan setiap kita anak bangsa Papua untuk menjadi garam dan terang dunia. Bila kita mencintai Tuhan Allah, kita akan mencintai gambar dan rupanya dalam diri sesama kita. Bila kita mencintai sesama kita seperti mencintai diri kita sendiri, maka kita akan sangat peduli pada sesama kita. Itulah salib kita, seperti pesan Yesus: barangsiapa ingin mengikuti aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya, lalu mengikuti Aku.

Bagaimana memikul salib kita dengan menjadi garam dan terang bagi sesama sebangsa dan setanah air Papua?

Suarakan suara-suara mereka yang tak sanggup bersuara. Perangi, terlibat aktif dalam memerangi para aktor penyebab derita. Berusahalah dan berdayaupayalah  untuk menciptakan tatanan hidup bangsa Papua yang tanpa penjajahan, derita dan ratap lagi.


Hanya dengan begitu, kita akan menjadi benar-benar pengikut Yesus dari Nazaret yang sejati!

Penulis: Sani
Anggota FKPMKP DIY
0
Share
St. Thomas Aquinas. (Foto: Ist).

Sejarah perkembangan filsafat barat merupakan hal yang menarik untuk dikaji. Terdapat banyak teori atau aliran filsafat yang mewarnai dunia pengetahuan barat yang kini dikenal sebagai negara-negara maju. Kemajuan perkembangan pengetahuan  mesyarakat negara-negara tersebut tidak sepenuhnya lepas dari perkembangan filsafat yang melatarbelakanginya. Perkembangan filsafat-filsafat yang ada dan terjadi memberikan corak warna pada kehidupan masyarakat di dunia.

Seiring perkembangan zaman, paradigma berfikir massyarakat barat modern lebih banyak dipengaruhi oleh aliran logis, yaitu filsafat Positivisme Logis. Filsafat ini mengajarkan bahwa hanya daya panca indera manusialah yang mampu mengubah kehidupan masyarakat dunia menjadi lebih maju, dalam hal ini masyarakat menjadi maju pesat dalam bidang pengetahuan.

Sebelum filsafat Positivisme Logis menjiwai masyarakat barat, lahir pemikiran atau filsafat yang disampaikan oleh filsuf termasyhur bernama Santo Thomas Aquinas. Aliran filsafatnya bertentangan dengan filsafat barat yang menentang metafisika. Karena dilahirkan di Italia dan pernah menempuh studi di Universitas Paris, pemikiran Thomas Aquinas juga diperngaruhi oleh pemikiran muslim, meskipun beliau adalah seorang Khatolik yang taat.

Thomas Aquinas merupakan filsuf dan teolog yang teguh pendiriannya. Ketika para ilmuwan Barat menentang teori-teori filsafatnya dengan gencar, beliau tettap kokoh mempaertahankan prinsip-prinsip yang mengakui adanya kekuatan Allah yang tidak sama dengan para makhluk-Nya. Beliau memberikan pencerahan tentang etika, dan membedakan antara pengetahuan dan keimanan manusia. 

Biografi Thomas Aquinas

St. Thomas Aquinas, salah satu tokoh filsafat barat pada abad pertengahan, dilahirkan di Lombardy, Rossa Sicca, daerah di kerajaan Napels, Italia pada tahun 1225 M (ada sumber yang menyebutkan pada tahun 1224 M). Dia berasal dari keluarga keturunan bangsawan, Kaisar Frederick I dan Henry VI. Thomas Aquinas terlahir dari pasangan Pangeran Landulf, keturunan Aquino dan Theodora, seorang Countest of Teano. Keluarganya  merupakan penganut agama Khatolik yang taat. Latar belakang ini ikut menentukan latar belakang pendidikan dan tujuan hidupnya.

Thomas Aquinas yang juga dikenal dengan nama Italia yaitu Thomaso d’Aquino, ketika berumur lima tahun (sekitar tahun 1257), Thomass Aquinas mulai belajar di Biara Benedictus di Monte Cassino hingga dia berusia lima belas tahun. Setelah selama sepuluh tahun belajar di Monte Casssino sebagai pendidikan dasar guna menjadi seorang biarawan, dia melanjutkan memperdalam ilmu bahasa di negara lain dengan beralih menjadi seorang Ordo Dominikan. Hal ini pada mulanya ditentang oleh keluarganya yang merupakan penganut Khatolik yang taat, namun tekat bulatnya pada akhirnya mampu meluluhkan hati kedua orang tuanya sehingga dia mendapatkan restu dari keduanya dan ressmi menjadi salah seorang anggota Ordo Dominikan tepat pada tahun 1245.

Pada mulanya dia belajar di Napels, tepatnya di Universitas Frederick II Nepal selama enam tahun, kemudian melanjutkan pendidikannya di Paris dibawah bimbingan seorang Aristotelian termasyhur bernama Albertus Agung. Dari beliau, St. Thomas Aquinas mendapatkan teori-teori filsafat Aristoteles.

Ketekunannya dalam mempelajari ilmu selama menempuh pendidikan membawanya menjadi seorang Doktor dalam bidang teologi dari Universitas Paris. Dia kemudian mendapat kepercayaan untuk mengajar disana sampai dengan tahun 1259 M. Selanjutnya dia aktif menjadi biarawan di beberapa biara Dominican, Roma, Italia selama kurang lebih sepuluh tahun atau hingga sekitar tahun 1269 M.

Semasa hidupnya, Thomas Aquinas berjasa dalam memberi kuliah bidang filsafat dan teologi beberapa kota yang ada di Italia, yaitu kota Anangi, Orvetio, Roma, dan Vitebro. Selanjutnya, dia kembali ke Paris selama tiga tahun sebelum dia dipanggil ke Naples guna mengemban tugas yang sama dan peran tambahan sebagai pendiri sekolah Dominican disana pada tahun 1272 M.

St. Thomas Aquinas, seorang teolog yang terkenall pada era abad pertengahan, meninggal dunia ketika berusia sekitar lima puluh tahun, tepatnya pada tanggal 7 Maret 1274 M. Pemikirannya tidak lenyap seiring dengan kepergiannya dari dunia fana, tetapi tetap melegenda dan senantiasa massih digunakan sebagai rujukan bahkan pada masa kini, ketika penulis makalah ini menyusun karya tulis (makalah) ini.

Pemikiran Thomas Aquinas

Thomas Aquinas, seorang filsuf dan teolog barat termasyhur pada masa abad pertengahan. Pemikirannya merupakan tidak lepas dari pengaruh dua orang filosof besar, Agustinus dan Aristoteles dapat mengguncang Eropa. Pada masanya, pemikiran yang dicetuskan oleh Thomas Aquinas, yang membangun keharmonisan antara agama dan akal membawa pengaruh yang sangat kuat di jajaran masyarakat Eropa. Pemikiran-pemikiran Thomas Aquinas yaitu filsafat thomisme, Essentia dan Exentia, Argumen Kosmologi, filsafat tentang penciptaan, filsafat tentang makhluk murni, filsafat jiwa, dan Etika Teologis.

Berikut ini adalah rincian pemikiran St.Thomas Aquinas:

1.             Thomisme

Thomisme adalah aliran filsafat yang dicetuskan sebagai hasil pemikiran St.Thomas Aquinas, seorang imam Khatolik yang saleh. Kata ”thomisme” berasal dari Summa Theologica, salah satu dokumen paling berpengaruh dalam filsafat abad pertengahan dan terus dipelajari oleh generasi penerus, bahkan generasi sekarang. Dalam ensiklopedi Angelici Doctoris, Paus St Pius X mengingatkan bahwa ajaran-ajaran Gereja tidak bisa dipahami secara ilmiah tanpa dasar-dasar filosofis dasar utama tesis ‘Thomas.

St Thomas Aquinas percaya bahwa kebenaran adalah benar dimana pun ditemukan, seperti juga para filsuf Yunani , Romawi , Yahudi , dan Muslim. Secara khusus, ia adalah seorang realis. Dia mengakui bahwa dunia dapat diketahui seperti apa adanya. St Thomas Aquinas menganut faham terminologi dan metafisika Aristoteles. Filsafat Thomismenya ini menekankan pada pengertian materi dan bentuk, potensi dan aktus, serta bakat dan perealisasiannya. Filsafat ini mempunyai tujuan untuk menciptakan kedamaian Yunani dan Nasrani dalam hal filsafat sekuler.

Thomas mengikuti pemahaman Aristoteles, merujuk kepadanya sebagai “Filsuf”. St. Thomas Aquinas juga mengikuti beberapa prinsip neoplato, seperti ketika dia mengatakan bahwa “adalah mutlak benar bahwa ada sesuatu yang pertama yang pada dasarnya ada dan pada dasarnya baik , yang kita sebut Allah, … [dan bahwa segala sesuatu] bisa disebut baik dan ada, sejauh ia berpartisipasi di dalamnya dengan cara suatu asimilasi tertentu …”

2.             Essentia dan Exentia

Ajaran Thomas Aquinas yang dikenal dengan sebutan Essentia dan Exentia ini. Essentia mengajarkan hakikat Tuhan, sedangkan esentia mengajarkan keberadaan Tuhan. Menurut filsafat ini, Tuhan adalah sempurna keberadaannya dan tidak berkembang.Dalam ajaran ini, essensi dan esketia tentang Tuhan adalah ada dan satu.Filsafat ini membedakan Tuhan dengan makhluk ciptaan-Nya, dimana Tuhan ada satu, sedangkan makluknya tidak bersifat satu. Menurut Thomas, Allah (Tuhan) merupakan aktus paling umum yang disebut dengan actus purus(aktus murni), dimana Tuhan dinyatakan nyata adanya dan bersifat tunggal (Esa). 

3.             Argumen Kosmologi

Ajaran atau filsafat Thomas Aquinas yang ketiga adalah argumen kosmologi dan biasa disebut teologi naturalis. Dalam kosmologi, Thomas Aquinas berpendapat bahwa manusia dapat mengenal Allah melalui akal yang mereka miliki, meskipun pengetahuan tentang Allah yang mereka peroleh dengan akal terrsebut tidak jelas dan menyelamatkan. Dengan akal yang mereka miliki, manusia sebagai makhluk Tuhan (Allah) dapat mengetahui bahwa Allah itu ada dengan sifat-sifat yang dimiliki-Nya.

St. Thomas Aquinas menyampaikan lima bukti adanya Tuhan sebagaimana rincian berikut:
Adanya gerak di dunia mengharuskan kita menerima bahwa ada penggerak pertama yaitu Allah. Menurut Thomas apa yang bergerak tentu digerakkan oleh sesuatu yang lain. Gerak menggerakkan ini tidak dapat berjalan tanpa batas. Maka harus ada penggerak pertama. Penggerak pertama ini adalah Allah.

Di dalam dunia yang diamati terdapat suatu tertib sebab-sebab yang membawa hasil atau yang berdaya guna. Tidak pernah ada sesuatu yang diamati yang menjadi sebab yang menghasilkan dirinya sendiri. Oleh karena itu, maka harus ada sebab berdaya guna yang pertama, inilah Allah.

Di dalam alam semesta terdapat hal-hal yang mungkin ada dan tidak ada. Oleh karena semuanya itu tidak berada sendiri tetapi diadakan, dan oleh karena semuanya itu dapat rusak, maka ada kemungkinan semua itu ada, atau semuanya itu tidak ada. Jika segala sesuatu hanya mewujudkan kemunginan saja, tentu harus ada sesuatu yang adanya mewujudkan suatu keharusan. Padahal sesuatu yang adanya adalah suatu keharusan, adanya itu disebabkan oleh sesuatu yang lain, sebab-sebab itu tak mugkin ditarik hingga tiada batasnya. Oleh karena itu, harus ada sesuatu yang perlu mutlak, yang tak disebabkan oleh sesuatu yang lain, inilah Allah.

Diantara segala yang ada terdapat ha-hal yag lebih atau kurang baik, lebih atau kurang benar dan lain sebagainya. Apa yang lebih baik adalah apa yang lebih mendekati apa yang terbaik. Jadi jikalau ada yang kurang baik, yang baik dan yang lebih baik, semuanya mengharuskan adanya yang terbaik. Dari semuanya dapat disimpulkan bahwa harus ada sesuatu yang menjadi sebab daris segala yang baik, segala yang benar, segala yang mulia. Yang menyebabkan semuanya itu adalah Allah.

Kita menyaksikan, bahwa segala sesuatu yang tidak berakal seperti umpamanya tubuh alamiah, berbuat menuju pada akhirnya. Dari situ tampak jelas, bahwa tidak hanya kebetulan saja semuanya itu mencapai akhirnya, tapi memang dibuat begitu. Maka apa yang tidak berakal tidak mungkin bergerak menuju akhirnya, jikalau tidak diarahkan oleh suatu tokoh yang berakal, berpengetahuan. Inilah Allah.

Dari kelima bukti di ats, kita dapat mengetahui bahwa ada suatu tokoh yang menyebabkan adanya segala sesuatu, tokoh/actus yang berada karena diriNya sendiri, yaitu Tuhan (Allah), tetapi semua itu tidak dapat membuktikan hakikat Allah yang sebenarnya kepada manusia. Para insan tahu sebatas bahwa Allah ada tanpa mengetahui wujud riil-Nya. Namun, pada dasarnya para manusia memang memiliki beberapa pengetahuan filsafat tentang Allah.

Berpijak pada keyakinan dan kenyatan bahwa manusia mempunyai kelebihan yang membedakan mereka dengan makhluk lain, yaitu akal, St. Thomas Aquinas berpendapat bahwa terdapat tiga cara yang dapat ditempuh manusia untuk mengenal Tuhannya. Ketiga cara tersebut adalah sebagai berikut:

Segala makhluk sekadar mendapat bagian dari keadaan Allah. Hal ini mengakibatkan, bahwa segala yang secara positif baik pada para makhluk dapat dikenakan juga kepada Allah (via positiva).

Via Negativa, merupakan kebalikan dari teori pertama. Disebabkan oleh adanya analogi keadaan yaitu segala yang ada pada makhluk tentu tidak ada pada Allah dengan cara yang sama.

Jadi ada yang baik pada makhluk tentu berada pada Allah dengan cara yang jauh melebihi keadaan pada para makhluk itu (via iminentiae).

4.             Penciptaan

Pemikiran filsafat Thomas Aquinas yang tidak kalah penting dari yang lain adalah filsafat tentang teori penciptaan.Filsafat ini tidak lepas dari ajaran tentang partisipasi, dasar yang dia terima dari Agustinus-Neoplatonisme. Namun demikian terdapat perbedaan yang mendasar antara pemikiran kedua tokoh tersebut. Ajaran Neoplatonisme menekankan emansipasi makhluk, sedangkan ajaran Thomas Aquinas menekankan pada kelebihan Allah, yaitu murni karya penciptaan Allah yang menyebabkan keberadaan dunia seisinya.

Penciptaan merupakan perbuatan Allah secara kontinu dan berkelanjutan. Adapun makluk-makhluk dan benda-benda ciptaan-Nya bersifat fana. Dari kekekalan, Allah menciptakan jagat raya dan waktu. Penciptaan yang terjadi secara kontinu untuk menciptakan para makhluk untuk dipelihara. Dengan demuikian tidak ada dualisme Allah dan para makhluk-Nya, seperti manusia dan alam semesta. 

Menurut ajaran ini, Allah menciptakan dati ”yang tiada” yang biasa disebut ex nihilo. Mengutip bahasa Al-Qur’an, Allah (Islam) bersifat Maha Menciptakan, melalui kun fayakun Nya, Dia (Allah) berkuasa penuh atas perwujudan makhluk yang Dia ciptakan

5.             Makhluk murni

Dalam teori filsafat ini, para malaikat yang merupakan makhluk rohani yang murni juga tersusun dari essentia dan exentia. Malaikat-malaikat itu berwujud roh (essentia/hakikat) dan bereksitensi. Hakikat dan eksisitensi para malaikat membedakan mereka dengan makhluk-makhluk lain seperti manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, dan benda-benda mati. Karena para malaikat tidak mempunyai potensi untuk berkembang sebagaimana makhluk hidup ciptaan Allah yang lain, mereka tidak mempunyai susunan materi, bentuk, potensi dan aktus, para malaikat tidak memiliki jasad, hanya ruhlah yang menjadi essentia (hakikat) mereka.

6.             Jiwa

Pada bahasan teori filsafat tentang makhluk murni menekankan pada hakikat dan eksistensi para malaikat, sementara pada filsafat Jiwa, hal yang ditekankan adalah hakikat dan eksistensi manusia. Menurut teori ini, manusia adalah makhluk yang berdiri sendiri dan tersusun atas bentuk dan materi. Manusia memiliki jiwa atau ruh dengan tubuh/jasad sebagai bentuknya.

Menurut Thomas Aquinas, jiwa dan jasad tidak dapat dipisahkan, mereka saling berhubungan. Jiwa bukanlah hal yang berdiri sebagai individu melainkan merupakan daya gerak yang memberikan wujud kepada tubuh sebagai materi. Sehingga, manusia memiliki dua hal yang menyatu sebagai pembentuk diri, yaitu pembentuk jassmani dan rohani mereka. Jiwalah yang menjadi kekuatan ruhani manusia, yang menyatu dalam jasad manusia dan memiliki lima daya/kekuatan sebagai berikut:

Daya jiwa vegetatif, yaitu hal yang berkaitan dengan penggantian zat dan pembiakan.

Daya jiwa yang sensitif, yaitu yang berkaitan dengan keinginan. Jiwa mempunyai kekuatan untuk mempengaruhi arah keinginan manusia.

Daya jiwa yang menggerakkan. Jasad para makluk, termassuk manusia dapat tergerak untuk hal-hal tertentu karena pengaruh jiwa.

Daya jiwa untuk berfikir. Dengan adanya jiwa, manusia terdorong untuk berfikir, menentukan tata cara melakukan dan mewujudkan perubahan.

Daya jiwa untuk mengenal. Proses identifikasi yang dilakukan manusia terhadap hal yang ada dan terjadi di sekeliling mereka dipengaruhi oleh jiwa dan kekuatannya. Dengan jiwa pula manusia dapat mengenal Tuhan.

7.             Etika Teologis

Tidak terlepas dari hubungan dan kehidupan manusia, filsafat etila teologis yang disampaikan oleh Santo Thomas Aquinas ini mengajarkan tentang moral. Etika mencakup moral yang diberlakukan bagi manusia sebagai individu maupun kelompok/masyarakat, menurut ajaran ini merupakan cahaya yang diturunkan oleh Allah dari cahaya manusia atau diturunkan dari tabiat manusia sebagai makhluk sosial yang hidup dalam lingkungan masyarakat. Menurut Thomas Aquinas tindakan yang mengerakkan manusia kepada tujuan akhir berkaitan dengan kegiatan manusiawi bukan dengan kegiatan manusia. Perintah moral yang paling dasar adalah melakukan yang baik, menghindari yang jahat.

Berbeda dengan khalayak pada era kehidupannya, St. Thomas Aquinas menganut pola pikir dan metode induktif. Dia menyesuaikan etika dengan kenyataan hidup. Etikanya bersifat teologis, etika yang berkaitan dengan keimanan kepada Allah sebagai Sang Pencipta. Namun demikian, etika teologis yang dia sampaikan tidak membuat ciri khas filosofis bahwa etika mempunyai kecenderungan untuk mengarahkan manusia menemukan garis hidup dan akalnya lenyap begitu saja. Realisaasinya adalah mewujudkan tujuan paling akhir dari kehidupan manusia yaitu secara perorangan manusia meyakini Allah dan secara sosial masyarakat, manusia harus diatur sesuai dengan tuntutan tabiat manusia untuk dapat saling membantu sesama manusia dalam mengendalikan nafsu yang tidak lepas dari diri dan jiwa mereka.

Menurut St. Thomas Aquinas, pada dasarnya semua nafsu adalah baik. Yang manjadikan wujud kejahatan pada nafsu-nafsu tersebut adalah ketika nafsu-nafsu tersebut melanggar wilayah masing-masing dantidak mendukung akal serta kehendak. Kejahatan selalua ada selama kebaikan masih ada. Nafsu dapat dikendalikan melalui akal yang merupakan pencerminan dari akal Illahi, akal yang mendasari kehidupan yang berpijak dan beriman kepada Allah sehingga akal tersebut dapat menghasilkan kebajikan.

Pandangan St.Thomas Aquinas mengenai peraturan menunjukkkan kelebihan etika filsafat yang dia sampaikan dibandingkan dengan etika teolog yang lain.

Penutup

Menurut sejarah perkembangan dunia dan pengetahuan, pada masa abad pertengahan merupakan masa dimana perkembangan pengetahuan di belahan dunia barat tidak berkembang secara baik. Pada masa itu, pengetahuan menglami masa suram. Dalam keadaan seperti ini, St. Thomass Aquinas terlahir sebagai pencerah. Beliau menyumbangkan buah pikirannya berupa filsafat teologi yang diyakini dan digunakan sebagai rujukan pengembangan pengetahuan filsafat hingga kini.
Filsafat-filsafatnya banyak didasari oleh prinsip-prinsip dan teori Aristotelisme (prinsip-prinsip yang dicetuskan oleh Aristoteles). Selain menganut prinsip Aristotelisme, St. Thomas Aquinas dalam mencetuskan filsafat-filsafatnya tidak terlepas dari pengaruh pengetahuan yang beliau dapatkan dari karya-karya Neoplatimisme maupun Augustinus dan pelajaran dari Albertus Magnus.


Pustaka:
Collison, Diane.2001. Lima Puluh filosof Dunia yang Menggerakkan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Hadiwijono, Harun. 1989. Sari Sejarah Filsafat Barat. Yogyakarta: Kanisius
http://blog.persimpangan.com/ filafat-perenialisme.
http://id.wikipedia.org/wiki/thomas.
http://thebookofphylosoph.blogspot.com/2010/06/thomisme.html.

http://www.biography.com/people/st-thomass-aquinas. 


(Diambil dari https://afidburhanuddin.wordpress.com oleh Biro Pendidikan dan Pengkaderan FKPMKP untuk kepentingan diskusi)

0
Share
Tan Malaka (Foto: Ist)

Buku karya Tan Malaka (1948)
Sumber: Cetakan ke 2, Penerbit: Toko Buku dan Percetakan “Nusantara”, Bukit Tinggi, 1948.
Disalin oleh Arif Burhan ke ejaan baru (Oktober 2011)


AGAMA NASRANI

Agama Nasrani ialah agama yang dikembangkan oleh Jesus dari Nazaret yang kita namai Nabi Isa. Kita juga sebut agama Kristen ialah agama Kristus. Menurut Encyclopedia Britannica maka Christ itu artinya Mahdi yang dimaksudkan oleh pujaan (prophecy)-nya Yahudi atau raja atas kemauan Tuhan. Menurut Der Chrosse Brockhauss, itu artinya penebus dosa manusia, penjelmaan Tuhan sendiri (die offenbarung Grottes). Susah sekali kalau tidak mustahil memberi definisinya agama Nasrani kalau tidak mesti dicari pada bermacam-macam mazhabnya (sects); buat Orthodox Kristen (kolot), tulisan dan lisan kitab Injil diambil bulat mentah begitu saja. Satu pusat atau kata saja disangsikan maka sarinya sama dengan menyangsikan seluruh kitab Injil dan seterusnya sama dengan menyangsikan esanya Tuhan. Jadi kata ayat dan pasal yang menyatakan bahwa Nabi Isa itu anaknya Tuhan, bisa menyembuhkan semua penyakit dan menghidupkan yang mati, bisa terbang dan berjalan di atas air, hidup kembali sesudah mati berjumpa dengan pengikutnya, semuanya ini buat Kristen Orthodox bukan kiasan melainkan bukti bulat mentah.

Jadi pemandangan yang memperhubungkan Nabi Isa dengan masyarakat Yahudi, memperhubungkan agamanya dan pahamnya Nabi Isa dengan agama dan ciptaan atau idaman Yahudi, pemandangan yang mengaku bisa adanya pengaruh pada dan perubahan dalam agama Kristen itu mesti ditolak mentah-mentah pula. Nabi Isa menurut mereka ialah anak Tuhan, yang dikirimkan-Nya ke dunia fana ini, sebagai janjinya pada Bani Israel, buat menebus dosa manusia. Sifat dan kodratnya Nabi Isa menurut paham ini tentulah sifat dan kodratnya Tuhan. Di sini kegaiban Isa dipulangkan pada ke-Tuhanan dan sebaliknya kegaiban Tuhan itulah yang dijelmakan oleh kegaiban Isa. Kristen semacam ini terdiri dari Kristen Timur (Rusia) dan Katolik Roma, pendeknya dari sebagian besar dari pengikut agama Nasrani akan bersoal jawab dengan Kristen semacam ini, yang juga besar pengaruhnya di Indonesia tentulah pengikut saudara kita di Toba Batak atau di Borneo Dayak ataupun di Papua yang mengikuti agama Nasrani itu. Juga pertama tiada mengutamakan akal logika, Dialektika atau bukti. 

Di tengah masyarakat Islam tuan Pendeta, walaupun dibelakangnya ada meriam dan tank dan di atas kepalanya ada payung pelindung ialah garuda “Imperialisme”, tiada bisa mengembangkan sayapnya atau kukunya. Lebih dari 1300 tahun Muhammad S.A.W sudah menyanggah ke-Tuhanan Isa; dengan begitu ia sanggah ke-Esaan Tuhan. Bertentangan dengan Kristen kolot pada masyarakat Borjuis Barat juga pada pihak kanan sekali kita dapati di zaman ini ahli filsafat Friederich Nietsche. Ahli filsafat ini bulat mentah tolak semua barang dan perkara yang berhubungan dengan Nabi Isa itu. Dianggap seperti satu kelemahan manusia, tetapi bisa menarik dan menjerumuskan. Di Barat Nietsche seperti anti Kristus. Kaum Nazi menganggap Kristus dan agamanya seperti ciptaan dan impian yudentum.
Materialis dan atheis walaupun timbul pada masyarakat Barat yang umumnya masyarakat Nasrani juga tentulah sudah di luar batas agama Kristen sama sekali. Hal ini tak perlu lagi diuraikan lebih panjang. Di antara Kristen-orthodox bulat mentah dengan Nietsche Nazi anti Kristus itu tentulah berlusin-lusin pula paham yang melayang. Tiadalah perlu diladeni satu persatu. Cukuplah kalau kita kemukakan, bahwa di sini berlaku juga undang perbedaan bilangan, akhirnya berubah menjadi perubahan sifat. Kita mulanya dengan begitu sampai ke tingkat dimana ia itu tidak, A = Non-A, akhirnya kita sampai ke tingkat pembatalan kebatalan.

Demikianlah perubahan teknik pada masyarakat Barat sedikit demi sedikit melalui tiga tingkat undang Dialektika itu, dari zaman Eropa sebelum Isa, sampai ke Feodalismenya zaman tengah (476-1492); dari zaman Feodalisme sampai ke zaman Kapitalisme. Zaman kapitalisme itu berlaku (dari abad 15-16 sampai sekarang di Eropa Barat, kecuali Rusia) perubahan teknik ekonomi pada masyarakat Barat mengubah susunan sosial politiknya, dan susunan kelas baru menimbulkan jiwa (psychology) menurut filsafat dan politik baru pula.

Filsafat dan politik baru dari kelas baru itu, yakni kelas borjuis sebelum Revolusi Perancis (1789) dan kelas proletar itu menentang, merombak dan membinasa cerai-beraikan paham Kristen dan politiknya pendeta dan agama Kristen (1789). Sesudah tahun 1789 kaum borjuis yang menang itu memakai Pendeta dan agama Kristen sebagai sayap kanan politiknya buat menolak semua tantangan proletar. Pertama agama jatuh ke tangan Katolik atau Protestan. Terutama Mazhab Katolik amat rapi organisasinya tentang agama. Tetapi perkara ekonomi, politik, dan sains (science) boleh dikatakan jatuh ke tangan Protestan.

Di Rusia di tahun 1917, perserikatan borjuis, Ningrat, Pendeta itu dihancur-luluhkan oleh kaum proletar di bawah pimpinan partai BOLSHEVIK atas oboran materialisme Dialektika. Demikian cocok dengan majunya ‘teknik” ekonomi, masyarakat filsafat dan politik Barat, selangkah demi selangkah agama Nabi Isa dari kegaiban bulat mentah pada permulaan di Barat dengan garis besarnya bertukar menjadi, “setengah gaib setengah nyata” seperti dianjurkan oleh Thomas, keramat masa skolastik (orang sekolah). Perubahan itu berlaku terus menerus sampai kita ke tingkat Protestan (Luther dan Calvin pada abad ke 16). Umumnya mengakui bahwa, hakekatnya agama Kristen itu, tiada bisa disahkan dengan Logika. Mereka, ahli filsafat Protestan ini, mendapat selimut dari perkataan: A-logis (tak logis). Filsafat Idealismenya Jerman menyesuaikan agama Kristen dengan Kerohaniannya itu dengan “Moderne kultur”.

Kita menjumpai ahli filsafat seperti Herder Scheiermacker, Kant dan Hegel. Kegagahan Kant dan Hegel yang termasyhur di dunia ini, sudah lebih dari cukup ditunjukkan pada permulaan buku ini. Kita tahu, bahwa percobaan Hegel yang bergelar raja filsafat itu menjadi alat adanya filsafat yang bertentangan ialah Materialisme Dialektis, yang bertubuh pada Marx dan Engels.

Di Rusia lama, teknik dan ekonomi itu tak semaju di Barat. Di sana politik dan agama itu, pemerintah dan agama itu tak sampai berpisah. Di sana politik dan agama ditambah dengan kegaiban Timur serta kebudayaan Timur dipadu menjadi satu dan dibadankan pada Tsar, ialah wakil Tuhannya orang Rusia-lama di dunia ini.

Perpisahan pemerintah dan agama itu di Barat, menjadikan perkakas buat kaum Borjuis buat membagi pekerjaan, penentang politik dan filsafat kaum buruh.

DIVISION OF LABOUR (pembagian kerja) semacam itu menambah kekuatan borjuis Barat. Pemborongan (Monopoli) agama, politik dan kebudayaan oleh Tsar itu membawa pemborongan semua kodratnya kelas baru yang ditunjukkannya pula.

Kekuasaan Tsar yang sempurna atas segala-galanya, membawa jatuhnya sempurna dalam segala-gala. Kebulat mentahnya kegaiban di Rusia diganti dengan kebulat mentahnya materialisme Dialektis. Demikianlah pendeknya sifat dan sejarahnya agama Kristen setelah masuk di Eropa Barat melalui kerajaan Romawi, masuk di Eropa Timur melalui Konstantinopel Zaman Nasrani (Sebelum Turki Islam). Sebelumnya agama masuk ke Eropa Timur dan Barat itu dia mempunyai sejarah pula pada Negara asalnya, ialah Palestina.

Disini pengikutnya bukan susunan ARIA, melainkan Bangsa Yahudi.

Pemandangan yang luas dan dalam,  yang berobor materialisme, boleh didapat dalam Bahasa Inggris “Foundation of Christianity”. Buku tebal ini dikarang oleh Karl Kautsky. Pengarang ini ialah seorang sosialis Jerman, boleh dibilang ulama besarnya internasional II.

Kira-kira seperempat abad (1889 - 1917) Karl Kautsky memegang pimpinan tentang teori sosialisme dan menerima pengakuan dari kaum buruh dunia, terutama yang tergabung oleh Internasional II itu. Turun derajat dan akhirnya jatuh Internasional II dari singgasananya, disampingi oleh naik Internasional III, sesudah Revolusi Komunis Rusia (1917) berbarengan dengan turun derajat dan jatuhnya Kautsky serta naik derajatnya Lenin Vladimir Ulianoff.

Polemik peperangan pena Lenin-Kautsky seru sengit, tetapi bergemilang, seperti dua bintang bertempur. Perbedaan mereka Nyata pada paham tentang diktator proletar. Lenin dibenarkan oleh sejarah! Tetapi pada masa Kautsky menjadi ulama besar itu, kelemahannya dalam Dialektika belum begitu terang. Kekurangan tajam matanya terhadap pertentangan kelas di Jerman belumlah memberi akibat yang buruk.

Sebab memang pada tahun 1889-1917 itu proletar Jerman khususnya ada dalam kedudukan yang tinggi sekali, baik dalam ekonomi maupun politik. Tetapi sesudah peperangan dunia (1914-1918) kelemahan Kautsky dalam dialektika mendatangkan akibat jahanam.

Walaupun begitu, tentulah Kautsky, seperti dahulu saya tahu di Rusia Merah sendiri, dianggap sebagai salah seorang yang pernah berjasa pada kaum buruh dunia. Foundation of Christianity tadi ditulis, kalau saya tak lupa, ketika Kautsky masih di puncak kehormatan. Meski diperingatkan pula bahwa masyarakat pada permulaan umur agama Kristen itu belum lagi bisa memajukan diktator proletar.

Boleh jadi kalau saya sekarang baca sekali lagi itu buku, saya bisa melihat kelemahan dalam hal Kautsky menguraikan pertentangan kelas. Tetapi saya tidak ingat kelemahan itu. Boleh jadi juga sebab sudah lebih dari 15 tahun lampau saya membacanya. Sebab saya tidak tahu lain buku tentang agama Kristen yang lebih scientific (menurut ilmu bukti) maka pembaca saya persilakan baca membaca Foundation of Christianity itu. Cara Kautsky menerangkan sesuatu perkara, bentuk pengarang dan kata yang dipakai memang susah sekali dicari taranya.

Di tempat saya sekarang tak ada buku Kautsky itu. Tetapi kalau saya tak silap garis merah besar yang dikemukakan oleh Kautsky berlainan dengan 1001 buku feodal atau borjuis tentang agama Kristen itu ialah:

1. Yesus Kristus. Isa anak Tuhan itu kalau betul ada orangnya yang sebenarnya salah seorang revolusionistis yang teguh tegap memegang dasarnya sampai palangan gantungan dan di atasnya palang gantungan itu sampai jiwanya melayang. Keteguhan hatinya itu mengagumkan musuh dan menyemangati nyawanya.

Dia lahir di daerah Galilea, ialah satu daerah yang masyhur sebagai sarang pemberontak yang tunggang. Bangsa Yahudi pada masa lahirnya takluk pada maharaja Romawi. Bangsanya mereka di bawah pimpinan kaum Rabbi (pendeta Yahudi).

2. Pengikut Nabi Isa pada masa hidup dan pada permulaan timbulnya kaum Kristen itu terdiri dari yang tak berpunya di kota-kota besar dan kampung. Mereka hidup secara sosialistis komunis, tak mengakui hak milik perseorangan dan dianggap sebagai perkumpulan terlarang oleh pemerintah Romawi.3

3. Setelah lama-kelamaan orang yang berpunya memasuki kumpulan rahasia Kristen itu, maka semangat Kristen yang mula-mulanya nyata revolusioner dan sosialistis itu bertukar menjadi kompromistis individualistis. Tawar menawar dalam politik dan hak diri sendiri tentang harta benda.

4. Akhirnya dalam pemilihan menjadi kaisar (Maharaja) Konstantin Besar mencari dan mendapat sokongan dari kaum Kristen. Dia menang dalam pemilihan itu

Sebagai balas jasanya kaum Kristen maka Konstantin Besar mengaku agama Kristen (pada tahun 313) sebagai agama resmi (disahkan undang). Dengan pengakuan sahnya agama Kristen oleh yang punya dan yang berkuasa itu, lambat laun matilah semangat revolusioner dan sosialistis seperti terdapat pada masa Nabi Isa dan pada permulaan berdirinya agama Kristen.

Demikianlah Karl Kautsky!
Sekarang pengabaran saja dengan sederhana.

Di muka saya ada kitab Injil, tetapi kitab Injil tiadalah memberi keterangan yang nyata langsung dan teratur tentang masyarakat, politik, ekonomi, serta pesawat Yahudi ketika Nabi Isa hidup. Yang barangkali pasti dan saya kemukakan disini hanyalah sekedarnya saja. Dalam lebih dari 1000 tahun sebelumnya Nabi Isa itu, maka bangsa Yahudi dan bangsa pengembara di pegunungan dan gurun pasir mencapai kekuasaan yang tinggi sekali, tidak saja mereka bisa merebut tanah yang subur di Palestina, tetapi mereka bisa mendirikan kerajaan yang kokoh, kuat serta menaklukkan beberapa negeri di sekelilingnya. Di bawah pimpinan Nabi Raja Daud dan Suleman bangsa Yahudi terkenal empat penjuru alam sebagai negara unggul.

Dari singgasana  yang tinggi itu kemudian mereka jatuh ke lembah perhambaan di Babylon. Kemudian mereka dikembalikan pula ke Palestina. Disini mereka ditaklukkan oleh Yunani dan akhirnya oleh Romawi. Pada masa Nabi Isa Palestina ini ialah satu provinsi, daerah jajahan Romawi. Tetapi dalam perkara agama serta adat istiadat bangsa Yahudi pada masa itu dipimpin oleh kaum Rabbi (pendeta Yahudi). Ongkos buat melayani gereja dan Rabbinya itu serta membayar ongkos perangnya tuan Romawi yang tak putus-putusnya tentulah banyak sekali. Sebagian bear dari ongkos perang dan semuanya dan Romawi dan semuanya ongkos gereja mesti dipikul oleh rakyat Yahudi dengan pajak. Tuhan yang Maha Esa yang tiada lemah lembut, melainkan membalas mata dicabut dengan mata dicabut pula, si penggigit digigit (oog om oog, tand om tand), cocok dengan hidupnya pemimpin tunggal, seperti Nabi Musa dan Daud dalam perjuangan yang seru sengit tak putus-putusnya.

Tuhan yang bersifat si penggigit digigit itu sudah bertukar sifat apabila bangsa Yahudi sampai ke tingkat sejarah Nabi (Raja) Suleman, mata terbelalak dan mulut menggigit itu tak jijik lagi dengan lingkungan dalam mahligai Nabi atau Raja Suleman. Seribu permaisuri dari berbagai-bagai bangsa, puteri yang terpelajar dan cantik-molek dan beragama macam-macam pula tiada patut dibilangi dan disengiti. Lagi pula dengan percampur-gaulan dengan pemikir dan beberapa bangsa musafir ke mahligai yang masyhur itu tentu menambah luas dan dalamnya pemandangan seseorang seperti Nabi atau Raja Suleman.

Kompromis dengan pemikir tuan negeri dan sang permaisuri dalam mahligai itu mesti terbayang pula di luar. Di sekeliling serambi gereja Yahudi beberapa macam rumah berhala dengan dewanya didirikan.

Ketika dibuang di Babylon, negara yang mempunyai kebudayaan tinggi, pula tentulah ke-Esaan Tuhan dan sifat si penggigit diigigit yang sudah dijadikan hamba oleh seribu permaisuri dari bermacam-macam bangsa dan agama, tentulah mendapat bahan baru pula. Tak mengherankan sesudah bangsa Yahudi balik dari pembuangan ke Palestina, sifatnya Tuhan itu kalau tidak banyaknya Tuhan sudah berubah.

Bagaimana juga lakonnya perubahan sifat Tuhan itu dari masa Nabi Ibrahim sampai ke masa Nabi Isa pada permulaan tarikh masehi Tuhan itu sudah bukan kepunyaan Yahudi lagi semata-mata. Pada sabdanya Nabi Isa sifat baru itu sudah nyata sekali. Nabi Isa langsung menentang kaum Rabbi dan dia juga menentang pahamnya kaum Rabbi tentang agama.

 Dalam sabda di gunung, Sermon on the mountain (bergrede), ialah kuncinya agama Kristen kita dengan Nabi Isa menganjurkan supaya jahat jangan dibalas dengan jahat pula, melainkan kalau orang pukul pipi kananmu maka kasihlah pipi kirimu. Kalau orang memaksa-engkau berjalan 1 mil jauhnya, ikutlah dia 2 mil jauhnya.

Nabi Isa meng-ikhtisarkan pelajarannya dengan maha kasih pada Tuhan dan kasih pada sesama manusia, seperti diri sendiri, Nabi Isa datang dari seorang pemberontak daerah Calilia disambut rakyat jelata di kota Yerusalem dengan Hosanna (hidup) turunan Nabi Isa atau raja Daud. Dalam kitab Injil kita baca Nabi Isa mengobati semua penyakit dengan mantera saja, menyihirkan roti sampai tujuh potong bisa menjadi ribuan, dsb. Sihir dan kegaiban itu tak masuk ke dalam daerah Madilog yang nyata di sini bahwa kemana Nabi Isa pergi ia diikuti dan disambut oleh rakyat miskin dengan ombak gembira dan hati penuh pengharapan.

Bisakah dan maukah Nabi mengadakan perlawanan dengan senjata? Mau atau tidaknya tidak mudah dijawab, karena bertentangan dengan beberapa sabdanya Nabi Isa kepada muridnya. Pada satu pihak disabdakan bahwa ia tidak datang buat perdamaian, melainkan dengan Pedang. Pada lain pihak disabdakannya bahwa memakai pedang itu akan tertikam oleh pedangnya sendiri.

Tetapi sari pelajarannya ialah maha kasih pada Tuhan (bapa itu) dan kasih pada sesama manusia. Tiada mengherankan!

Perlawanan dengan senjata terhadap partai Rabbi yang dilindungi oleh kerajaan Romawi yang sedang naik mataharinya, yang muda remaja, kuat kokoh itu, mesti akan sia-sia belaka.

Tidak mustahil terpendam dalam hati sanubarinya ada maksud memerdekakan bangsanya dengan senjata, tetapi selama pengikutnya yang didapatnya dalam propaganda selama 18 bulan itu masih begitu sedikit maka maksud seandainya ada mesti dia simpan sementara. Program yang penting dan pertama mesti dijalankan ialah mengasihani Bapa di langit yang selalu ada dimana-mana, adil, pengasih dan penyayang. Tuhan buat Nabi Isa tiadalah bermakna seperti yang diartikan oleh ahli filsafat atau Rabbi. Nabi Isa juga tiada memakai Logika dan Dialektika. Maknanya Tuhan buat dia ialah maknanya yang bisa dimengerti oleh si miskin ramai, yang bukan keluaran sekolah tinggi. Tuhan sebagai Bapa yang adil pengasih penyayang ini dengan dia sendiri sebagai anaknya Tuhan itulah mestinya menjadi ikatan persatuan yang utama. Nabi Isa lebih dulu mencari kerajaan Tuhan dan keadilannya. Sesudah itu makanan dan minuman dan pakaian itu akan didatangkan oleh Tuhan sendirinya. Cuma yang tak bertukar yang mencari benda semacam itu. Demikian sabdanya.

Sudah tentu Madilog bersikap sebaliknya. Makanan dan pakaian itu lebih dahulu, baru keadilan dan kasih sayang pada sesama manusia itu bisa timbul, tumbuh turut menurut.

Tetapi kasih sayang ialah sifatnya “Tuhan” sebagai tali pengikat kaum Kristen itu tiadalah nampak lagi kalau kita dengarkan Nabi Isa menentang partai Rabbi, penindas langsung bangsanya dan perkakas batinnya kerajaan Romawi. Agitator revolusioner macam apapun tak bisa memperbaiki ketajaman dan racunnya kiasan serta sindiran-celaan, dan cacian yang dituduhkan pada para Rabbi. Nabi Isa menyangka pada pendengarnya, manakah yang lebih, emas ataukah gereja yang memuja emas itu? Dinasehatkannya supaya dengarkan dan lakukan apa yang dikatakan oleh Rabbi itu, karena merekalah yang menduduki kursi Nabi Musa. Tetapi janganlah dilakukan apa yang mereka lakukan, karena mereka cuma pandai berkata, tetapi tiada mau melakukan apa yang dikatakannya itu.
Awas engkau, hai alim ulama munafik, engkau pemimpin edan dan buta ular dan keturunan ular berludak (sendok), mustahil engkau akan bisa luput dari api neraka? Demikianlah sikap pengasih penyayang terhadap rakyat miskin tadi, bertukar menjadi sikap galak tajam beracun menantang partai Rabbi. Musuh no. 1.

Pada masa Isapun sudah ada agen provokator (tengkulak penjerat). Mereka bertanya pada Nabi Isa, apakah baik kalau dibayar pajak pada Maharaja di Romawi? Nabi Isa yang baca sanubari mereka jawab dengan cerdik: kasihkanlah kepada Maharaja, haknya Maharaja itu, dan berikan kepada Tuhan, haknya Tuhan itu. Walaupun akibatnya pelajaran Nabi Isa bertentangan dengan Maharaja Romawi, tetapi Nabi Isa tentu juga mengerti bahwa salahlah sikap yang menimbulkan musuh pada 2 barisan (fighting on two fronts). Kekuatan yang pertama mesti dipusatkan dahulu pada partai Rabbi, partai yang dia anggap menghisap langsung dan penghianat bangsa Yahudi.

Partai Rabbi juga maklum dalam hal ini. Sudah lama pula iri hati melihat naiknya pengaruh nabi Isa di antara Rakyat miskin. Rapat ulama (Sanhedrin) diadakan. Rapat memutuskan akan menangkap Nabi Isa. Dia ditangkap sesudah dikhianati oleh Yudas Eskariot, salah satu pengikutnya. Pengikut yang lain mau mengangkat senjata ketika Nabi Isa ditangkap. Tetapi Nabi Isa mencegah dengan sabda, “siapa yang memakai senjata akan dibinasakan oleh senjata juga”. Nabi Isa dibawa ke rapat Rabbi yang sibuk memikirkan tuduhan palsu terhadap Nabi Isa.

Di muka rapat Rabbi, Nabi Isa oleh Imam Besar ditanya apakah ia akui bahwa ia betul anak Tuhan. Nabi Isa akui terus terang. Pengakuan ini dianggap sebagai penghinaan (penghujatan, godslatering)atas dirinya Tuhan. Atas pengakuan ini Imam Besar memutuskan bahwa Nabi Isa mesti dihukum mati.

Nabi Isa diikat atas perintah Rabbi dan diserahkan pada Pontius Pilatus wakil kerajaan Romawi. Nabi Isa tiada menjawab tuduhan Rabbi. Tetapi pertanyaan Pontius Pilatus, apakah betul Isa mengaku, bahwa ia Raja Yahudi, Isa mengaku terus terang.

Pada hari itu biasa dilepaskan seorang hukuman. Apakah Pilatus bertanya kepada para Rabbi, siapakah yang mesti ia lepaskan? Isa atau seorang jahat bernama Barabas, maka para Rabbi meminta supaya Barabas penjahat dilepaskan dan mendesak supaya Isa dipaku di palang gantungan. Pontius terpaksa membenarkan dengan perkataan, bahwa dia tiada mengandung dosa terhadap Nabi Isa.

Ramai dihasut oleh para Rabbi, di atas kepala Nabi Isa ditaruh “Mahkota Duri” sebagai ejekan. Di tangan ditaruh tongkat sebagai ejekan. Ramai yang terhasut itu berlutut di muka Nabi Isa yang bertongkat dan bermahkota duri, sambil berkata “sembah simpuh O, Raja Yahudi”. Tiadalah dilupakan oleh ramai meludahi “Raja Yahudi Itu” . Inilah akhirnya tepuk sorak dan pujian: Hidup turunan Nabi Daud.

Sikap Nabi Isa di muka hakim, di tengah-tengah ejekan caci-maki ramai di atas palang gantungan terus terang mengaku dan teguh tegap memegang azasnya sampai napasnya terakhir, sungguh ajaib, membuat takjub kawan dan lawan.

Walaupun kepercayaan bahwa Nabi Isa hidup kembali dan memberi amanat kembali kepada pengikutnya ada di luar daerah Madilog, tetapi logis dan sepatutnyalah azas dan sikap Nabi Isa terus hidup kekal.

Azasnya Nabi Isa kalau boleh dengan kasar ringkas saja gambarkan ialah “Komunisme sederhana”. Komunisme sederhana ini betul-betul dijalankan oleh kaum Kristen sebelum mereka dimasuki dan pikirannya dipakai oleh kaum berpunya dan berkuasa. Sikap Nabi Isa ialah sikap maha pencinta dan Maha Satria.

Di “kitab Suci” pun bisa kita saksikan, bahwa Nabi Isa selalu didapati di antara ramai, miskin, di antara orang melarat, hina dina, sakit gila. Mereka inilah buat Nabi Isa yang sebenarnya calon buat negara seribu tahun milenium yang akan datang di bumi kita ini, yang penuh dengan keadilan dan cinta kasih sayang. Lebih mudah seekor unta masuk ke lubang jarum dari pada buat seorang kaya masuk ke surga, sabda Isa. Ini menunjukkan bahwa orang kaya itu di luar partainya para Rabbi, perkakas kerajaan Romawi yang hidup sukaria dan gila hormat dan pujian itu, ialah musuhnya mati-matian dan langsung menjadi sebab matinya Nabi Isa.

Pada permulaan tarikh Masehi ini kita belum lagi mempunyai perindustrian kemesinan, pabrik yang bisa mengikat yang tak berpunya itu dalam satu kumpulan, dengan tuntutan ekonomi atau politik. Nabi Isa memakai idaman rakyat jelata pada masa itu. Idaman itu tergambar pada agama Yahudi. 

Ialah kepercayaan datangnya Negara 1000 tahun yang suci itu, bersama dengan turunnya Almasih, Mahdi. Tiada berapa bedanya kepercayaan rakyat Yahudi pada masa itu dengan kepercayaan rakyat kita di Jawa Tengah pada kedatangan Ratu Adil. Makin mendalam kemelaratan, makin keras pengaruhnya kepercayaan itu di sanubari rakyat. Pemimpin yang jujur tahu membangkitkan semangat rakyat jelata, serta teguh tangkas sikapnya mesti berlaku seperti besi berani yang menarik besi lain. Pengaruhnya tidak bisa disingkirkan. Pemimpin semacam itulah Nabi Isa, menurut paham saya. Dia memenuhi idaman Rakyat Jelata pada masanya.

Idaman semacam itu pada zaman semacam itu mesti tinggal idaman. Sebab barang yang nyata, buat melaksanakan idaman seperti itu, seperti industri model baru, belum ada. Hati gajah tak bisa sama dilapah. Semua kawan berada dalam kemiskinan. Komunisme pada masa itu cuma berlaku dengan hati tungau (kecil) sama dicacah (di raba) saja. Mengadakan perlawanan lahir seperti kaum proletar dimana Blanqui atau dimana Lenin tiada akan ada hasilnya karena bedanya perindustrian modern, belum timbul tunas sama sekali. Di zaman Nabi Isa kaum komunis mesti melakukan pahamnya sama rasa, sama rata, serta sayang menyayangi sesama manusia itu, di atas harta kepunyaan yang segala sederhana. Dalam keadaan segala sederhana ini makanan, pakaian, dan perumahan di kota dan desa dimana berada serdadu Romawi dan kaum Rabbi, pengharapan atau melimpahnya segala-gala, terserah kepada belas kasihan Tuhan di Langit, sebagai bapa yang Maha Sayang yang bersemayam dilangit itulah! Dia mengirimkan anak Tunggal-nya ke dunia fana ini. Buat perintis “negara 1000 tahun” yang penuh dengan keadilan dan cinta kasih sayang itu, “buat rajanya Bangsa Yahudi” Jesus Nazarenus Rex Jodiorum!

AGAMA YAHUDI

Seperti pada sejarahnya kepercayaan Hindustan, maka kepercayaan pada keesaan Tuhan itu, yang cocok dengan Maha Dewanya Hindustan boleh jadi sekali timbul pada tingkat yang lebih tinggi dari pada kepercayaan pada banyak Dewa, dan yang belakangan ini lebih tinggi dari tingkat kepercayaan pada ke-jiwa-an (Animisme).

Sejarah bangsa Yahudi dalam lebih kurang 3000 tahun ini, walaupun lebih pasti dari sejarah Hindustan, tentulah tidak begitu pasti dan sempurna seperti sejarah Eropa dalam 4 atau 5 abad belakangan ini, atau Indonesia dalam 3 abad belakangan ini.

Sumber sejarah Yahudi ialah kitab Injil lama, terutama 5 kitab yang dipulangkan kepada Nabi Musa, bernama kitab Taurat dan kitab Talmud, yang ditulis pada lebih kurang 500 tahun sebelum Nabi Isa. Saya sudah membaca kitab Injil, baik dalam bahasa Belanda, Inggris, atau Indonesia. Saya gemar membacanya, karena memang banyak pengajaran di dalamnya. Norma, susila, pengertian buruk-baik, yang kita peroleh dari cerita Nabi Ibrahim, Musa, Daud, Suleman dan lain-lain, adalah tinggi sekali.

Kesan yang kita peroleh sesudah membaca cerita Yusuf dalam dalam kitab Injil yang Nabi Muhammad juga ikut, tiada mudah dilupakan seumur hidup. Pusaka Yahudi kepada dunia Nasrani dan Islam dalam pengertian buruk baik dalam satu pergaulan manusia, adalah pusaka yang kekal (positive). Cerita dalam kitab Injil ialah sejarahnya Yahudi, tetapi sejarahnya Yahudi lebih banyak dari yang tertulis dalam kitab Injil itu. Sejarah bangsa Yahudi dalam lebih kurang 3000 tahun itu, sejarah tempat diam, pencarian hidup, pesawat dan lain-lain yang teratur dari tahun ke tahun tentulah tidak bisa diperoleh dari Kitab Injil, yang tidak memperdulikan tarikh dan tanggal itu.

Buat mendalamkan pengertian tentang ke-esa-an Tuhan pada bangsa Yahudi kita mestinya mempunyai sejarah yang pasti tentang masyarakat Yahudi pada masa dan sebelum ke-Esa-an Tuhan itu lahir. Kita tahu dari sumber Islam dan Nasrani, bahwa pada masa Nabi Ibrahim, bangsa Yahudi Bani Israel menyembah beberapa Dewa dalam rumah berhalanya. Kita tahu bahwa Nabi Ibrahim itu namanya berkenaan dengan kepercayaan pada ke-eEa-an Tuhan, yaitu Yahwe.

Tetapi ke-Esa-an Tuhan itu lebih nyata dan lebih kita kenal pada zaman Nabi Musa melarikan diri dari Egypte (Mesir) di bawah Firaun ke semenanjung Sinai Lautan Merah.

Bani Israel, yang terdiri dari beberapa suku, yang cerai tidak bersatu adat dan kepercayaan hidupnya sebagai penggembala di Egypte di bawah raja Fir’aun itu, diisap, ditindas, serta dipandang rendah sekali oleh bangsa Egypte (Mesir). Mereka pada satu ketika memutuskan hendak melarikan diri ke Negara baru yang dijanjikan Tuhan (Palestina). Sudahlah tentu mereka tak mempunyai senjata cukup, atau kepandaian keserdaduan yang cukup. Mereka bangsa terhisap, tertindas, dan terhina. Mereka dikejar oleh Fir’aun sudah tentu dengan laskar yang cukup senjata dan kepandaian kemiliterannya. Kalau Fir’aun berhasil usahanya, sudah tentu semuanya atau sebagian besar Bani Israel akan dipancung atau dikubur hidup-hidup.

Dalam pertarungan yang sama sekali tidak seimbang inilah pula timbul seorang pemipin, yang cuma satu dua bisa didapat dalam seribu tahun. Kalau dibuka selimut kegaiban yang diselimutkan pada tubuhnya, maka berdirilah di muka kita satu manusia mesti mendapat kehormatan dari bangsa dan masa manapun juga.

Nabi Musa seorang yang berusia tinggi sudah tentu dia mestinya cerdik pandai. Tiada saja lebih cerdik dan lebih pandai dari mereka di bawah pimpinanya tetapi ia mesti lebih cerdik pandai dari pemimpin, bala tentara kuat-kokoh yang mengejarnya.

Sudah tentu ia mestinya lebih dipercaya oleh susunan suku yang cerai-berai, sering saling bertingkah dan berselisih, sering putus asa dan dalam ketakutan dahsyat.

Perempuan, lelaki, tua dan muda, kuat dan lemah dengan bermacam-macam adat dan paham cuma bisa percaya dan ikut perintahnya Nabi Musa, kalau ia lebih dari mereka dalam segala-gala, kecerdasan, keberanian dan keteguhan hati.

Belum lama berselang dari bangsa Eropa, yang berkebudayaan tinggi dalam daya upayanya melepaskan diri dari ikatannya semboyan yang me-listrik jutaan bangsanya: Ein Volk, Eine Sprache, Eine Fuhrer. (Satu bangsa, satu bahasa, dan satu pemimpin) Rusia sudah lama mempunyai Diktator, malah Negara Demokratis pun seperti Amerika dan Inggris, dalam masa perang ini berada di bawah Fuhrer Roosevelt dan fuhrer Churchill pula.

Pada sejarah Yahudi dimana Negara itu belum ada, dan mesti direbut dari bangsa lain, persatuan teguh atas nama yang Maha Kuasa, tak heran hati rakyat, melakukan: satu Tuhan, satu bangsa dan satu pimpinan pula. Tuhan yang esa, yang menjadikan Negara baru pada Bani Israel itu, yang tentu mesti direbut dengan kepercayaan bulat satu, dan persatuan kokoh di antara beberapa suku cerai berai itu, ialah Yahweh.

Pemimpin yang tahu maksudnya yang esa itu, yang kalau perlu bisa berjumpa dengan dia, oleh sebab itu bisa mempersatukan bermacam-macam suku itu, ialah Nabi Musa. Atas kepercayaan pada satu Tuhan, Yahweh, maka di semenanjung Sinai semua suku Bani Israel itu dipersatukan oleh Nabi Musa. Keperluan buat bersatu menentang bermacam-macam kerusuhan membutuhkan persatuan kepercayaan, pada satu Tuhan, adalah erat sekali seluk beluknya.

Fir’aun dan tentaranya ditenggelamkan Yahweh di Laut Merah. Bani Israel sekarang mengembara di pesisir Timur Laut Merah di Semenanjung Sinai. Pengembaraan puluhan tahun itu menukar manusia bersifat penakut menjadi pemberani. Nama Israel itu artinya juga pahlawan Tuhan. Atas pertolongan Yahweh, mereka menang dari tentara Fir’aun bukan?

Lebih kurang pada tahun 1220 sebelum Nabi Isa, Bani Israel, Pahlawan Tuhan, menyerbu ke Palestina, dari Timur dan Selatan. Akhirnya lebih kurang tahun 1000 sebelum Nabi Isa, mereka bisa merebut pegunungan dekat Palestina, tetapi tiada bisa menaklukkan negara di pesisir. Juga kota yang besar-besar seperti Yerusalem, Heggida, Besan dan segalanya belum lagi dapat ditaklukkan. Pertarungan yang seru sengit dengan bangsa Kanaan, Bangsa Filisten dari pesisir dan bangsa Badui terus menerus saja berlaku.

Setelah Nabi Musa meninggal, maka “Persatuan” agama di bawah satu pimpinan menghadapi musuh yang banyak dan kuat tadi, tentulah tidak kurang dirasa perlunya. Pahlawan Tuhan Bani Israel sekarang tiada lagi bangsa pengembara semata-mata.

Pemimpin tunggalnya tiada lagi kerjanya semata-mata buat mencari jalan di gunung atau gurun pasir atau pemuja Yahweh seperti pada masa Nabi Musa, Bani Israel sekarang sudah menjadi penakluk, perebut negara baru, jadi tani, penggembala dan serdadu. Sekarang satu pimpinan Tunggal perlu buat menyelenggarakan pertanian, penggembalaan, pertukangan dan perniagaan. Perlu buat menyelenggarakan kepolisian, kehakiman, dan kemiliteran. Perlu buat menyelenggarakan politik dan diplomasi buat ketentaraan terhadap ke dalam dan keluar Negara. Pemimpin Tunggal yang berkuasa dalam perkara ekonomi, politik dan diplomasi itu biasanya kita namai raja. Tetapi kerajaan itu oleh Bani Israel, Pahlawan Tuhan, diperoleh sebagai hasil baik, upah dari kepercayaan dan ke-Esa-an Tuhan, pada Yahweh, sebagai hasil peperangan atas namanya Tuhan. Raja semacam itu, tiada saja berkuasa menyelenggarakan perkara keduniaan tetapi juga perkara akhirat; memuji dan memuja Yahweh. Pemerintah semacam itu dinamakan Teokrasi, pemerintah Tuhan. Ketunggalam pemimpin atas perkara dunia dan akhirat itu terbayang terang benderang pada ketunggalannya ke-esa-anya 

Tuhan, Yahweh. Kekuasaan tentang dunia dan akhirat itu sudah dipegang oleh Raja Saul. Tetapi Raja Nabi Daud, lebih banyak berperang dan lebih banyak menang. Hidupnya Raja Nabi Daud seolah-olah buat berperang saja. Daerah pemerintahannya tidak saja meliputi sukunya sendiri, ialah suku Yuda, tetapi juga seluruh kerajaan Saul Almarhum. Selain dari pada itu, Raja Nabi Daud menaklukkan bangsa Filisten dan Kanaan. Perselisihan di antara keluarganya berhenti, sesudah ia memilih anaknya Nabi (Raja) Suleman sebagai penggantinya. Nabi (Raja) Suleman yang kita kagumi kecerdikannya mengembangkan kerajaannya terutama dengan jalan perkawinan dan perjanjian. Mesir digabungkan dengan kerajaannya yang mengawini puteri Fir’aun. Dengan perjanjian (diplomasi), Tyrus juga bersekutu dengan kerajaan Salomon, dengan mengirimkan kapal ke Tanah Emas, nabi (Raja) Suleman menempuh perniagaan dan politik dunia.

Tiadalah mengherankan kalau Nabi (Raja) Daud senang dengan dan Rakyatnya mufakat dengan tunggalnya Tuhan yang menguasai seluruh alam. Karena Tuhan itu tidak berbantahan dengan dirinya sebagai Nabi (Raja) yang tunggal pula menguasai perkara dunia dan akhirat.

Cocok dengan massa dan murba, cocok dengan tempo dan tempat, puteranya Nabi (Raja) Daud, yakni Nabi (Raja) Suleman mendirikan gereja Yahweh pada 945 sebelum Nabi Isa di Yerusalem. Gereja ini penuh dengan segala keindahan.

Tetapi sebagai suami dari 700 permaisuri dan 300 gundik dari bermacam-macam agama itu, dia tidak boleh monopoli semua kepercayaan dan memaksa Sang permaisuri memeluk kepercayaan yang dipusatkan oleh Nabi Ibrahim, Musa dan Daud kepadanya. Seperti dia dikelilingi oleh ratusan permaisurinya dari bermacam-macam agama itu begitu pula gereja Yahweh dikelilingi oleh rumah penuh berhala buat Dewa permaisurinya. Buat melayani permaisuri ratusan itu, buat kawin dan pesta keselamatan berkali-kali dan mahal itu, buat mendirikan gedung yang indah permai, rakyat di bawah Nabi (Raja) Suleman berat sekali musti memikul pajak. Kecerdikan dan tangan kerasnya bisa memadamkan rasa pemberontakan. Tetapi sesudah dia meninggal kerajaan pecah belah. Pada tahun 921 sebelumnya Nabi Isa kita saksikan dua kerajaan: Yuda dan Israel. Pada berapa abad berikut kita saksikan sengketa dan peperangan saudara di antara dua kerajaan itu. Demikianlah yang satu melemahkan yang lain setahun demi setahun. Sampai kita akhinrya melihat Pahlawan Tuhan kalah perang dengan Kerajaan Babylonia dan diangkut ke Babylonia dari tahun 597 sampai tahun 586 sebelum Nabi Isa.

Kepercayaan pada kekuasaan Tuhan, pada Yahweh, tiadalah berkurang, malah bertambah-tambah. Bukanlah persatuan suku di atas kekuasaan Tuhan, Yahweh, yang melepaskan Bani israel dari telapak kaki Fir’aun?

Bukanlah persatuan dan kesatuan Yahweh, yang melahirkan Nabi (Raja) Daud dan Suleman dan kerajaannya, dan mengikat bermacam-macam bangsa dan Negara yang dipuji dan dipuja di seluruh dunia? Ke-esa-an Tuhan tidak bersalah. Ke-esa-an bangsa Yahudi mesti diperkokoh. Ke-esa-an itu tentu perlu lagi disertai lagi ke-esa-an Tuhan. Di Babylonia, di tempat pembuangan itu, tak ada raja dari Bani Israel atau Bani Yuda yang bisa mempersatukan rakyat dengan polisi kepercayaan. Kepercayaan itu banyak berhubungan dengan Bani Yuda sebab itu kita sekarang memakai nama Yahudi.

Kepercayaan Yahudi sesudah pembuangan itu tentulah mendapat perpaduan dan sepuhan dengan kepercayaan dan pengetahuan lain. Bangsa Yahudi berbalik ke Palestina buat tinggal beberapa abad sampai pada masa mereka bercerai-berai di seluruh dunia seperti sekarang.

Dalam perjalanan lebih dari 2000 tahun di belakang ini maka agama Yahudi dipengaruhi oleh filsafatnya Yunani itu. Sari itu tentu berlainan dengan sari dengan sari di zaman mudanya, dan Grosse Vrockhauss mengikhtisarkan sari pengertian sekarang dengan:
1. Kepercayaan kepada Tuhan yang esa, yang tidak berbadan melainkan semata-mata  terdiri dari rohani.2
2. Alam Raya ini, ialah “bikinan yang esa itu”.
3. Tuhan yang esa itu ialah bapa sekalian manusia.
4. Yang esa itu sudah mengumumkan kemauannya dengan firmannya.
5. Dasarnya pembikinan Tuhan itu ialah:
6. Manusia merdeka memilih yang buruk dan yang baik.
7. Tuhan itu ialah membikin undang dan penghukuman.
8. Maksudnya manusia ialah negara akhirat menurut Messiah (Mahdi). Negara ini penuh kasih sayang keadilan serta perdamaian. Manusia mesti kerja mendapatkannya.
9. Tuhan memilih Bani Israel mengembangkan firmannya.
10. Bumi fana ini akan berakhir pada dunia baka.


(Dishare untuk kepentingan diskusi FKPMKP).
0
Share
Postingan Lama Beranda

Ikuti Kami di Facebook

Katolik Papua

Post Terpopuler

  • Pelajaran Dari “Dismas”, Penjahat Sebelah Kanan Yesus di Salib
    Ilustrasi: Yesus,Dismas dan Gestas di palang kayu salib/ist   Oleh, Herman E. Degei "Kisah tentang orang hebat sudah sering kit...
  • Diskusi Seputar Ajaran-ajaran Sosial Gereja (ASG)
    Hasil Diskusi Forum Komunikasi Pelajar dan Mahasiswa Katolik Tanah Papua di Daerah Istimewa Yogyakarta (FKPMKP DIY) Topik  D...
  • Diskusi Tentang Filsafat St. Thomas Aquinas
    Hasil Diskusi Forum Komunikasi Pelajar dan Mahasiswa Katolik  Tanah Papua Daerah Istimewa Yogyakarta (FKPMKP DIY) Topik  Disk...
  • Misdinar: Melayani Tuhan Secara Sempurna
       Foto : saat -saat bersama Misdinar katefral Tiga Raja Timika, Seusai malam Kamis putih./doc.prib Man Banyak dari kita yang mengan...
  • Cerita Rakyat Kohei/Koyei Daba
    Ilustasi.ist ( Yesus Persi Suku Mee) Di daerah pedalaman Nabire, tepatnya daerah Makewapa, hiduplah satu kelurga yang miskin. Ke...
  • Kaldo: "Saya Dapat Banyak Manfaat dari Makrab FKPMKP DIY 2016"
    PesertaMakrab FKPMKP DIY 2016: Frans Tigi, Ansel Tebay,Yosinta Watae, Kaldo Dogomo, Yunita Wawon, Herman Degey, Petrus Tebay dan Daud Aga...
  • Bahasa Daerah Papua, Itu Budaya
    Kesepakatan  Anggota  FKPMKP Berdoa  Menggunakan Bahasa Daerah Bahasa adalah alat komunikasi yang berupa sistem lambang bunyi yang diha...
  • Diskusi FKPMKP DIY: Yesus Kristus dan Ajarannya
      Ilutrasi.@Design.Mank.Ist Topik              : Tuhan Yesus dan Ajarannya Moderator      : Manfred Kudiai Notulen         :...
  • Adven: Apa & Kenapa Perlu?
    Usai diskusi.(Foto: FKPMKP/Doc.Ist) Forum Komunikasi Pelajar Mahasiswa Katolik Tanah Papua Daerah Istimewa Yogyakarta, Sabtu, (03/12...
  • Dimana Allah Berada?
    Dimana Allah Berada? Penulis : J.Darminta, SJ Penerbit : Kanisius Tahun : 2006 Tebal Buku : 47 halaman Dalam kehidupan kita ban...

Tag Lines

  • Brosure
  • GALERI
  • Hasil Diskusi
  • Opini dan Artikel
  • Sastra dan Budaya
  • Siaran FKPMKP

Video

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *

Hak Cipta © 2016 : FKPMKP DIY | Forum Komunikasi Pelajar dan Mahasiswa Katolik Tanah Papua di Daerah Istimewa Yogyakarta |

Created By ThemeXpose